Membuka Potensi Content Tourism, Event Jejepangan di Yogyakarta Jadi “Tanah Air Imajiner” Penggerak Ekonomi Kreatif
YOGYAKARTA (28/10) – Acara budaya populer Jepang atau yang dikenal sebagai event Jejepangan tidak hanya menjadi ruang berkumpul bagi para penggemar, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata dan penggerak ekonomi kreatif di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini dikaji oleh Mery Kharismawati, S.S., M.Si., dosen Program Studi Bahasa Jepang untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional (Bj. Kombispro), Departemen Bahasa, Seni dan Manajemen Budaya (DBSMB), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui kajian tentang potensi content tourism dan wisata minat khusus (special interest tourism) pada ekosistem Jejepangan di Yogyakarta.

Melalui festival budaya, konvensi kreator, cosplay, hingga pertunjukan musik dan tari, event Jejepangan menghadirkan ruang bagi penggemar untuk mengekspresikan identitas, membangun jejaring komunitas, dan menikmati budaya populer Jepang tanpa harus bepergian ke negara asalnya. Dalam kajian tersebut, acara seperti Comipara 6 dan Okaeri (Vokasi Mei Matsuri) berpotensi menjadi “tanah air imajiner” (imaginary homelands), yakni ruang yang menghadirkan kedekatan emosional dan pengalaman kultural bagi para penggemar. Fenomena ini menunjukkan bahwa daya tarik wisata tidak selalu harus bertumpu pada destinasi fisik, tetapi juga dapat tumbuh dari pengalaman, minat, dan keterikatan komunitas terhadap budaya populer.
Potensi tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Comipara 6 pada 18–19 April 2026 di Grand Bima Hall, Jogja Expo Center (JEC). Mengusung konsep pasar komik dan seni kreatif, acara ini memanfaatkan area seluas 8.640 meter persegi dengan sekitar 350 booth kreator independen. Survei terhadap 179 responden menunjukkan bahwa 77,8% pengunjung telah menggeluti budaya populer Jepang selama lebih dari lima tahun. Selain itu, 75% responden menunjukkan potensi kunjungan ulang yang tinggi, termasuk jika harus menempuh perjalanan jauh untuk menghadiri acara serupa. Dari sisi ekonomi, sebanyak 81% responden melakukan pembelian merchandise dengan rata-rata pengeluaran sekitar Rp200.000 per pengunjung.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa daya tarik Comipara 6 tidak hanya terletak pada hiburan, tetapi juga pada keterlibatan pengunjung dalam ekosistem kreatif. Interaksi dengan kreator independen, pembelian karya, pertukaran barang gratis (freebies), dan aktivitas komunitas menjadi bagian dari pengalaman yang dicari pengunjung. Karakteristik ini membuka peluang bagi Yogyakarta untuk menarik wisatawan dari luar daerah sekaligus memperluas pasar bagi kreator dan pelaku usaha kreatif lokal.
Potensi serupa terlihat pada Okaeri (Vokasi Mei Matsuri) yang diselenggarakan pada 17–18 Mei 2026 di Sekolah Vokasi UGM. Berakar dari kegiatan yang telah berkembang sejak era D3 Bahasa Jepang, acara tahunan ini memadukan pembelajaran bahasa Jepang dengan festival budaya populer. Pada hari pertama, kegiatan diisi dengan kompetisi akademik, meliputi Sanpuunkan Speech, cerdas cermat, dan Kana Taikai atau lomba huruf kana yang diikuti siswa SMA dan sederajat dari Yogyakarta dan sekitarnya. Hari kedua menghadirkan beragam kegiatan subkultur, seperti cosplay, pertunjukan idol, dance, dan lomba karaoke.
Survei terhadap 62 pengunjung Okaeri menunjukkan bahwa 71% responden telah menyukai budaya populer Jepang selama lebih dari lima tahun. Sebanyak 80% menyatakan bersedia kembali menghadiri acara tersebut, sedangkan 75,8% menilai suasana acara terasa akrab dan komunikatif. Hasil ini menunjukkan bahwa daya tarik event tidak hanya dibentuk oleh rangkaian kegiatan, tetapi juga oleh suasana inklusif yang memungkinkan pengunjung berinteraksi dan membangun kedekatan. Sebagai acara berbasis kampus, Okaeri turut mempertemukan institusi pendidikan, pelajar, komunitas penggemar, dan pelaku industri kreatif dalam satu ruang kegiatan.
Secara konseptual, kedua acara tersebut memperlihatkan bagaimana pariwisata modern dapat berkembang melalui projection model, yaitu penciptaan daya tarik berdasarkan proyeksi citra dan pengalaman kultural, bukan semata-mata keberadaan objek fisik atau warisan alam dan budaya. Dalam konteks Jejepangan, pengalaman tersebut dibentuk melalui partisipasi pengunjung dalam cosplay, pertukaran karya, aktivitas oshikatsu atau kegiatan mendukung idola dan karakter favorit, serta interaksi sosial antar penggemar. Dengan demikian, ruang penyelenggaraan event dapat menjadi tempat sementara bagi penggemar untuk merasakan kedekatan dengan budaya yang mereka sukai.
Meskipun event Jejepangan di Yogyakarta belum secara khusus bertumpu pada lokasi fisik yang menjadi latar narasi anime tertentu seperti sejumlah destinasi content tourism di Jepang, kedua acara ini menunjukkan potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis komunitas dan budaya populer. Jika diintegrasikan dengan promosi destinasi, agenda wisata kota, serta layanan transportasi dan akomodasi, event tersebut berpeluang mendorong kunjungan berulang, memperpanjang lama tinggal wisatawan (length of stay), dan meningkatkan belanja pengunjung. Dampaknya juga dapat meluas ke usaha kuliner, sektor makanan dan minuman (food and beverage), penginapan, serta UMKM yang menyediakan produk dan layanan pendukung acara.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, diperlukan kolaborasi antara penyelenggara acara, komunitas penggemar, perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku industri kreatif, dan sektor pariwisata. Kolaborasi dapat diwujudkan melalui penyusunan kalender acara, promosi lintas destinasi, pelibatan UMKM, serta pengembangan paket wisata yang terhubung dengan pengalaman budaya populer. Dengan pendekatan ini, event Jejepangan tidak hanya menjadi ruang berkumpul bagi komunitas, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap penguatan daya saing pariwisata dan ekonomi kreatif Yogyakarta.
Pengembangan ekosistem Jejepangan sebagai bagian dari pariwisata kreatif juga berpotensi mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui perluasan peluang usaha dan aktivitas ekonomi kreatif; SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan ekosistem kreatif dan inovasi penyelenggaraan acara; serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antar pemangku kepentingan. Melalui pengelolaan yang inklusif dan berkelanjutan, event Jejepangan dapat menjadi salah satu penggerak pariwisata berbasis pengalaman sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai ruang tumbuh ekonomi kreatif yang berakar pada partisipasi komunitas.