Rumah Jamu Menoreh Audiensi dengan Dewan Jamu DIY, Perkuat Jejaring Pelestarian Jamu Tradisional

Dalam audiensi tersebut, Rumah Jamu Menoreh diwakili oleh ketuanya, Mulyono. Sementara itu, Sekolah Vokasi UGM diwakili oleh Sarani Pitor Pakan, S.Sos., M.Sc., Ph.D. bersama tim pengabdian kepada masyarakat. Dewan Jamu DIY hadir melalui ketuanya, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, bersama Prof. Dr. Mae Sri Hartati Wahyuningsih, M.Si., Apt.
Salah satu agenda utama pertemuan adalah membahas peluang Rumah Jamu Menoreh untuk bergabung dengan Dewan Jamu DIY. Keanggotaan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Rumah Jamu Menoreh sebagai ruang edukasi jamu tradisional sekaligus destinasi wisata berbasis tanaman herbal dan kearifan lokal di kawasan Menoreh.
Ketua Dewan Jamu DIY, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Rumah Jamu Menoreh untuk bergabung dalam jejaring organisasi tersebut. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung gerakan pelestarian dan pembudayaan jamu melalui keterlibatan berbagai pihak, termasuk komunitas, akademisi, dan pelaku usaha. Jamu tidak hanya memiliki nilai sebagai produk tradisional, tetapi juga merepresentasikan pengetahuan turun-temurun mengenai pemanfaatan tanaman herbal yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pengenalan jamu kepada generasi muda menjadi salah satu upaya penting untuk menjaga keberlanjutan pengetahuan tersebut agar tetap dikenal dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Audiensi ini juga membuka peluang bagi Rumah Jamu Menoreh untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang melibatkan Dewan Jamu Indonesia maupun jejaring organisasinya. Kesempatan tersebut berpotensi menjadi sarana untuk memperkenalkan produk, program edukasi, dan potensi wisata jamu kepada masyarakat yang lebih luas. Selain memperluas jangkauan promosi, keterlibatan dalam berbagai kegiatan juga dapat membuka ruang kolaborasi dengan pelaku usaha, komunitas, akademisi, serta pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap pelestarian jamu tradisional. Rumah Jamu Menoreh berlokasi di Desa Kemiriombo, Kalurahan Gerbosari, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Destinasi ini mengembangkan pengalaman wisata yang memadukan edukasi jamu, pemanfaatan tanaman herbal, budaya lokal, dan keterlibatan masyarakat. Pendekatan tersebut memungkinkan jamu diperkenalkan bukan sekadar sebagai produk, melainkan juga sebagai bagian dari pengetahuan, tradisi, dan identitas masyarakat setempat.
Melalui pendampingan dan kolaborasi dengan Sekolah Vokasi UGM, pengelola Rumah Jamu Menoreh terus berupaya memperkuat kapasitas pengelolaan serta memperluas promosi destinasi. Audiensi dengan Dewan Jamu DIY menjadi salah satu langkah untuk membangun hubungan kelembagaan yang mendukung pengembangan wisata edukasi herbal secara berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui upaya memperkenalkan pengetahuan tradisional mengenai tanaman herbal dan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang warisan budaya jamu. Pengenalan tersebut perlu disertai informasi yang bertanggung jawab dan tidak menggantikan penggunaan layanan kesehatan berbasis bukti ilmiah.
Kedua, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui pengembangan potensi wisata edukasi jamu yang berpeluang membuka kesempatan usaha, memperluas pemasaran produk lokal, dan mendukung perekonomian masyarakat. Ketiga, SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, khususnya dalam upaya melindungi dan menjaga warisan budaya serta pengetahuan tradisional melalui pengembangan wisata yang berakar pada identitas lokal. Keempat, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui penguatan sinergi antara perguruan tinggi, organisasi pelestarian jamu, pengelola destinasi, dan masyarakat.
Kolaborasi antara Rumah Jamu Menoreh, Sekolah Vokasi UGM, dan Dewan Jamu DIY diharapkan dapat berkembang menjadi kemitraan yang berkelanjutan. Penguatan jejaring kelembagaan, pengembangan program edukasi, serta perluasan promosi wisata diharapkan mampu menjaga eksistensi jamu tradisional sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat di kawasan Menoreh.
Audiensi ini menjadi langkah awal dalam memperkuat upaya pelestarian warisan herbal Indonesia melalui pendekatan kolaboratif yang menghubungkan pengetahuan tradisional, pendidikan, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat.