UNIVERSITAS GADJAH MADA
SEKOLAH VOKASI
DEPARTEMEN BAHASA, SENI DAN MANAJEMEN BUDAYA

UNIVERSITAS GADJAH MADA
SEKOLAH VOKASI
DBSMB

| | | | | | |

Peneliti UGM dan ISI Yogyakarta Dokumentasikan Tradisi Rasulan untuk Promosi Wisata Budaya melalui Instagram

YOGYAKARTA (29/10) – Tradisi Rasulan di Kalurahan Grogol, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, memiliki potensi untuk dikenalkan kepada khalayak yang lebih luas melalui media digital. Untuk mendukung upaya tersebut, tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mendokumentasikan rangkaian tradisi Rasulan pada 28–29 Mei 2026 sebagai bahan pengembangan konten promosi wisata budaya melalui Instagram.

Gambar 1. Proses dokumentasi tradisi Rasulan di Kalurahan Grogol
Gambar 1. Proses dokumentasi tradisi Rasulan di Kalurahan Grogol

Kolaborasi ini melibatkan Dr. Rina Widiastuti, S.S., M.A., dosen Magister Terapan Pengembangan Atraksi Wisata, dan Lillyana Mulya, S.S., M.A., dosen Sarjana Terapan Pengelolaan Arsip dan Rekaman Informasi, Departemen Bahasa Seni dan Manajemen Budaya (DBSMB) Sekolah Vokasi UGM (SV UGM) dan Dr. Petrus Gogor Bangsa, S.Sn., M.Sn.; Dr.Sn. Indiria Maharsi, S.Sn., M.Sn.; dan Febriyanti Pratiwi, S.S., M.A yang merupakan Dosen Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Kolaborasi lintas disiplin ini menggabungkan perspektif pengembangan atraksi wisata, pengelolaan dokumentasi, dan komunikasi visual untuk memperkenalkan warisan budaya lokal melalui platform digital.

Dokumentasi dilakukan di Padukuhan Karangmojo A, Kalurahan Grogol, dengan mencakup sejumlah aktivitas dalam tradisi Rasulan, antara lain kenduri, kirab dan rayahan gunungan, penyajian makanan tradisional, serta pertunjukan Reog. Tim Desain Komunikasi Visual (DKV) ISI Yogyakarta bertanggung jawab atas dokumentasi visual utama prosesi budaya. Adapun tim UGM mendampingi mahasiswa internasional dari Indonesian Language and Culture Learning Service (INCULS), Fakultas Ilmu Budaya UGM, sekaligus mendokumentasikan interaksi mereka dengan masyarakat selama mengikuti rangkaian kegiatan.

Hasil dokumentasi tersebut selanjutnya dikembangkan menjadi 14 konten Instagram Reels bertema Rasulan. Konten ini dimanfaatkan sebagai materi dalam penelitian pemasaran wisata budaya digital untuk mengeksplorasi bagaimana mahasiswa internasional memahami tradisi Rasulan setelah melihat representasinya melalui media sosial. Penelitian ini juga mengkaji pengalaman wisata yang mereka bayangkan, serta minat dan pertimbangan mereka untuk berkunjung dan berpartisipasi dalam kegiatan budaya tersebut.

Pemanfaatan Instagram sebagai media promosi membuka peluang untuk memperkenalkan tradisi lokal kepada audiens lintas negara melalui format audio visual yang mudah diakses. Namun, promosi wisata budaya tidak hanya perlu menarik perhatian, tetapi juga harus mampu menyampaikan konteks, makna, dan nilai tradisi secara tepat. Oleh karena itu, dokumentasi visual menjadi bagian penting dalam menjembatani pengalaman budaya masyarakat setempat dengan pemahaman calon wisatawan yang belum pernah menyaksikan tradisi Rasulan secara langsung.

Penelitian kolaboratif ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Kontribusi tersebut mencakup SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran lintas budaya yang mempertemukan mahasiswa internasional dengan tradisi masyarakat lokal; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan potensi promosi wisata budaya yang dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat; SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pengenalan dan pelestarian warisan budaya; serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan materi promosi yang menghormati nilai, makna, dan konteks tradisi setempat.

Melalui kolaborasi UGM dan ISI Yogyakarta, dokumentasi Rasulan tidak berhenti sebagai rekaman kegiatan budaya, tetapi dikembangkan menjadi sumber pembelajaran lintas budaya sekaligus materi promosi wisata digital. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengembangan konten wisata budaya yang menarik, informatif, dan bertanggung jawab, sekaligus memperluas pengenalan tradisi Rasulan Gunungkidul kepada masyarakat yang lebih luas.

Similar Posts