Mahasiswa Bahasa Inggris SV UGM Kembangkan BONI Card, Inovasi Alat Peraga Edukatif untuk Tingkatkan Kepercayaan Diri Siswa SD

BONI Card dikembangkan oleh Bulan Angraeni, Ni Luh Cantika Najla, dan Yasmine Vashti Azaria di bawah bimbingan dosen Yohana Ika Harnita Sari, S.Pd., M.Hum., Ph.D. Inovasi ini berangkat dari perhatian tim terhadap tantangan yang dihadapi siswa sekolah dasar ketika harus berbicara di depan orang lain. Kurangnya kepercayaan diri dapat menjadi salah satu hambatan bagi siswa untuk mengungkapkan gagasan secara lisan. Melalui pendekatan berbasis permainan, BONI Card diharapkan dapat menghadirkan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk berani berbicara tanpa merasa tertekan.
BONI Card memiliki tiga level aktivitas yang disusun secara berjenjang, yaitu Berani Berbicara, Berani Bercerita, dan Berani Berpendapat. Pada tahap pertama, siswa diajak menjawab pertanyaan sederhana untuk membangun keberanian berbicara. Selanjutnya, siswa berlatih menyampaikan cerita, sebelum akhirnya didorong untuk mengungkapkan pendapat secara lebih terstruktur di depan teman-teman sekelas. Urutan aktivitas tersebut dirancang agar siswa dapat mengembangkan keterampilan komunikasi lisan sesuai dengan tahapan pembelajaran yang menyenangkan dan suportif.
“Kami ingin siswa merasa bahwa berbicara di depan orang lain itu menyenangkan, bukan menakutkan. Dengan pendekatan bertahap melalui permainan kartu, siswa dapat mengembangkan keberanian mereka tanpa merasa tertekan,” ujar Bulan Angraeni, salah satu anggota tim pengembang BONI Card.
Selain kartu aktivitas, BONI Card dilengkapi buku petunjuk yang dapat digunakan oleh guru dan praktisi pendidikan sebagai panduan penerapan media dalam kegiatan pembelajaran. Materi dan aktivitasnya dikembangkan dengan mempertimbangkan capaian pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum Merdeka, terutama keterampilan berbicara dan menyampaikan gagasan secara lisan. Dengan demikian, BONI Card dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang membantu guru menciptakan kegiatan belajar yang partisipatif sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk berlatih berkomunikasi.
Dosen pembimbing, Yohana Ika Harnita Sari, S.Pd., M.Hum., Ph.D., menyampaikan bahwa pengembangan BONI Card merupakan salah satu bentuk kontribusi mahasiswa SV UGM dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dasar. Menurutnya, inovasi media pembelajaran perlu memperhatikan kebutuhan guru dan karakteristik peserta didik agar dapat diterapkan secara praktis dalam kegiatan belajar mengajar.
“BONI Card menjawab kebutuhan guru akan media pembelajaran yang aplikatif dan menyenangkan, sekaligus selaras dengan kurikulum yang berlaku,” ungkap Yohana.
BONI Card pertama kali diluncurkan pada 17 Juli 2026 di SD Negeri 1 Tegalyoso, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Dalam kegiatan tersebut, siswa kelas V berkesempatan mempraktikkan penggunaan BONI Card secara langsung dalam pembelajaran bersama guru di sekolah. Para guru yang hadir menyambut antusias inovasi tersebut dan berharap media pembelajaran serupa dapat dikembangkan serta dimanfaatkan secara lebih luas.
Kehadiran BONI Card juga menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam menjawab kebutuhan pembelajaran di tingkat sekolah dasar. Pengembangan media ini membuka peluang kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung keterampilan komunikasi, keberanian berekspresi, serta partisipasi aktif anak dalam proses pendidikan.
Inovasi BONI Card sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya upaya mendukung terselenggaranya pendidikan yang inklusif dan berkualitas serta kesempatan belajar bagi semua. Melalui penyediaan media pembelajaran yang interaktif, BONI Card diharapkan dapat membantu guru menghadirkan kesempatan berlatih berbicara yang lebih menarik dan partisipatif bagi siswa sekolah dasar. Inisiatif ini juga berpotensi mendukung penguatan keterampilan komunikasi sebagai bagian dari pengembangan kompetensi peserta didik.
Saat ini, BONI Card sedang dalam proses pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai langkah untuk melindungi karya inovasi yang dikembangkan oleh tim. Ke depan, tim berharap BONI Card dapat disempurnakan dan diadaptasi untuk jenjang kelas maupun konteks pembelajaran lainnya, sehingga manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak siswa dan sekolah.
“Kami bermimpi melihat anak-anak Indonesia yang berani bicara, berani bercerita, dan berani berpendapat. Itulah fondasi generasi pemimpin masa depan,” pungkas Yasmine Vashti Azaria.
Melalui BONI Card, mahasiswa Bahasa Inggris SV UGM menunjukkan bahwa kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran dapat menjadi langkah nyata untuk mendukung tumbuhnya generasi yang percaya diri, mampu berkomunikasi, dan berani menyampaikan gagasan.
Penulis : Yohana Ika Harnita Sari