UNIVERSITAS GADJAH MADA
SEKOLAH VOKASI
DEPARTEMEN BAHASA, SENI DAN MANAJEMEN BUDAYA

UNIVERSITAS GADJAH MADA
SEKOLAH VOKASI
DBSMB

| | | | | | |

Dosen UGM Paparkan Peran Universitas dalam Pengembangan Desa Wisata pada 2026 Asia Virtual Academy Conference di Taiwan

YOGYAKARTA – Dosen Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya (DBSMB), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Nuryuda Irdana, menjadi pembicara dalam 2026 Asia Virtual Academy Conference bertema “Austronesian Cultures” yang diselenggarakan pada 16 September 2026. Konferensi yang diselenggarakan oleh National University of Kaohsiung (NUK), Taiwan, ini menjadi forum akademik untuk membahas eksistensi, pelestarian, dan keberlanjutan budaya masyarakat Austronesia di tengah tantangan modernisasi.

Gambar 1. Penyerahan sertifikat pembicara oleh Presiden National University of Kaohsiung, Dr. Chi-Jen Chen
Gambar 1. Penyerahan sertifikat pembicara oleh Presiden National University of Kaohsiung, Dr. Chi-Jen Chen

Dalam konferensi tersebut, Dr. Nuryuda Irdana menyampaikan materi berjudul “The Role of University in Developing Sustainable Tourism Villages”. Ia mengapresiasi penyelenggaraan konferensi yang memberikan ruang bagi pembahasan pariwisata, khususnya pengembangan desa wisata berbasis masyarakat. Menurutnya, tema tersebut relevan dengan upaya menjaga keberlanjutan budaya lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Austronesia.

Dalam paparannya, Dr. Nuryuda membagikan pengalaman praktik (practice story) dalam mendampingi dan mengembangkan desa wisata di sejumlah desa mitra UGM. Ia menjelaskan bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat mendukung penguatan kapasitas pengelola desa wisata, pengembangan potensi lokal, serta penerapan tata kelola pariwisata yang berkelanjutan.

Pendampingan perguruan tinggi memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan untuk mengelola potensi pariwisata di desanya. Melalui proses pendampingan, masyarakat didorong agar mampu mengidentifikasi potensi lokal, mengembangkan daya tarik wisata, serta mengelola kegiatan pariwisata dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan, sosial, dan budaya. Di sisi lain, keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan desa wisata juga memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Permasalahan dan kebutuhan masyarakat di desa dapat menjadi dasar pengembangan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Proses pendampingan tersebut juga dapat menghasilkan luaran akademik, seperti bahan ajar, laporan pengabdian kepada masyarakat, dan publikasi ilmiah.

Paparan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat dan pelestarian identitas budaya lokal. Dalam konteks budaya Austronesia, desa wisata dapat menjadi ruang untuk menjaga tradisi, pengetahuan lokal, dan praktik budaya agar tetap hidup serta memiliki nilai bagi generasi mendatang.

Gambar 2. Foto bersama narasumber dan panitia kegiatan
Gambar 2. Foto bersama narasumber dan panitia kegiatan

Konferensi ini turut menghadirkan sejumlah akademisi dan pimpinan perguruan tinggi dari kawasan Asia. Sesi pembukaan disampaikan oleh Presiden National University of Kaohsiung, Dr. Chi-Jen Chen. Sejumlah pembicara lainnya membahas topik pendidikan masyarakat adat, isu sosial dan ekonomi untuk pembangunan berkelanjutan, serta keberlanjutan sosial dan budaya di kawasan penyangga situs warisan dunia.

Sesi diskusi dan tanya jawab dimoderatori oleh Dr. Hsing-Hao Wu, Vice President of Administration Affairs, National University of Kaohsiung. Kehadiran para akademisi dari berbagai negara menjadikan konferensi ini sebagai wadah pertukaran pengetahuan dan pengalaman lintas disiplin dalam merespons tantangan pelestarian budaya dan pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan ini mendukung pencapaian SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui kontribusi akademisi dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman pengembangan desa wisata, SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan kapasitas masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal dan meningkatkan peluang ekonomi berbasis pariwisata, SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pelestarian warisan budaya dan pengembangan desa wisata yang berkelanjutan, serta SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman lintas negara. Partisipasi Dr. Nuryuda Irdana dalam 2026 Asia Virtual Academy Conference menjadi wujud kontribusi UGM dalam mendorong kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, pelestarian budaya lokal, dan peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan.

Similar Posts