Lomba tingkat nasional tersebut diikuti peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan berlangsung dalam tiga ronde. Ronde 1 menghadirkan soal pilihan ganda dengan lima jenis model soal. Ronde 2 berupa cerdas cermat, yang menguji kemampuan peserta menebak jumlah goresan suatu kanji dan menentukan kanji pembentuk jukugo sesuai petunjuk soal. Ronde 3 merupakan tes tulis yang menguji kemampuan mengubah huruf hiragana ke kanji dan sebaliknya.
Abyan mengaku merasakan campuran gugup dan percaya diri selama mengikuti perlombaan. “Perasaan saya saat itu gugup, tentu saja. Tapi di waktu yang sama, saya juga merasa percaya diri karena persiapan saya kali ini jauh lebih baik dibandingkan pada pengalaman lomba sebelumnya,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa ronde ketiga menjadi bagian yang paling menegangkan baginya. “Saya sempat pesimis dengan keestetikan tulisan saya. Takut juga kalau akhirnya tidak juara.”
Namun, kerja keras dan persiapan matang membuahkan hasil. Abyan berhasil tampil sebagai Juara 1. “Setelah diumumkan menang, saya tentu saja merasa sangat senang dan bersyukur. Tidak menyangka juga bisa meraih juara pertama,” ujarnya.
Universitas Gadjah Mada menyampaikan apresiasi atas prestasi tersebut dan berharap capaian ini dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan kemampuan bahasa Jepang mereka.