UNIVERSITAS GADJAH MADA
SEKOLAH VOKASI
DEPARTEMEN BAHASA, SENI DAN MANAJEMEN BUDAYA

UNIVERSITAS GADJAH MADA
SEKOLAH VOKASI
DBSMB

| | | | |

Penelitian UGM Ungkap Peran Video Tur Kampus dalam Komunikasi Institusi dan Penguatan Kapasitas Tenaga Kependidikan

YOGYAKARTA (28/10) – Video tur kampus tidak hanya menjadi sarana memperkenalkan lingkungan dan fasilitas universitas, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran bahasa Inggris sekaligus penguatan komunikasi profesional tenaga kependidikan. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Supriyono, Vincentius Tangguh Atyanto Nugroho, dan Winarto dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yang mengkaji penggunaan bahasa, gestur, dan unsur visual dalam video tur kampus untuk merepresentasikan identitas institusi dan aktivitas profesional.

Gambar 1. Ilustrasi Penelitian
Gambar 1. Ilustrasi Penelitian

Penelitian yang dilaksanakan pada 1–30 Juli 2026 ini menggunakan pendekatan analisis wacana multimodal kualitatif terhadap sepuluh video tur kampus yang dibuat sebagai tugas akhir dalam program pembelajaran bahasa Inggris tingkat menengah bagi tenaga kependidikan di sebuah universitas di Indonesia. Analisis mencakup tuturan, cara peserta memperkenalkan diri, penggunaan kata ganti, gestur, gerak tubuh, lokasi kampus, papan informasi, foto, teks pada layar, hingga teknik penyuntingan video. Dari setiap video dipilih dua episode, yaitu bagian pembuka dan bagian substantif, sehingga total terdapat 20 episode yang dianalisis secara sistematis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh video mampu merepresentasikan universitas melalui format penyampaian yang beragam. Sebagian peserta melakukan tur secara langsung dengan berjalan melewati ruang dan fasilitas kampus, sedangkan peserta lainnya memanfaatkan narasi, foto, atau salindia. Perpaduan bahasa lisan, gestur, pergerakan kamera, dan label tertulis membantu membangun pemahaman penonton mengenai ruang, layanan, kegiatan, serta sejarah institusi.

Meski demikian, penelitian ini menemukan bahwa keterlihatan peran profesional peserta belum merata. Dari 20 episode yang dianalisis, sembilan episode tidak memperlihatkan hubungan pekerjaan pembicara secara eksplisit, sembilan episode menampilkan afiliasi dengan unit atau organisasi, dan hanya dua episode yang menghubungkan pembicara dengan praktik kerja secara lebih jelas. Hal tersebut terlihat, antara lain, dalam presentasi mengenai kegiatan inkubasi bisnis dan prosedur khusus kearsipan. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan memperkenalkan institusi tidak selalu diikuti dengan kemampuan menjelaskan tanggung jawab dan praktik profesional secara konkret.

Bagi Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya (DBSMB), Sekolah Vokasi UGM, temuan ini dapat menjadi bahan refleksi dalam merancang pembelajaran bahasa Inggris yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Tugas berbasis video berpotensi dikembangkan tidak hanya untuk melatih kelancaran berbahasa, tetapi juga untuk meningkatkan kemampuan menyampaikan informasi secara terstruktur, memadukan bahasa dengan unsur visual, serta menghubungkan presentasi institusi dengan konteks pekerjaan peserta. Dengan rancangan tugas yang tepat, tenaga kependidikan dapat memperoleh ruang untuk menunjukkan kontribusi unit kerja sekaligus memperkuat keterampilan komunikasi profesional.

Penelitian ini juga memiliki relevansi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 4 (Pendidikan Bermutu) berkaitan dengan pengembangan pembelajaran bahasa Inggris yang kontekstual dan berorientasi pada kebutuhan peserta. SDG 5 (Kesetaraan Gender) menjadi pengingat pentingnya kesempatan yang setara bagi seluruh gender dalam mengakses pelatihan dan mengembangkan keterampilan komunikasi profesional. Sementara itu, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) berkaitan dengan peningkatan kapasitas komunikasi yang mendukung pelaksanaan tugas dan interaksi profesional di lingkungan kerja.

Meskipun penelitian ini tidak mengukur dampak langsung program terhadap kompetensi kerja maupun pencapaian SDGs, hasilnya memberikan landasan untuk mengevaluasi desain pembelajaran dan mengembangkan kegiatan yang lebih dekat dengan praktik profesional. Melalui pemanfaatan video sebagai media pembelajaran, pendidikan bahasa dapat dihubungkan dengan kebutuhan komunikasi institusi dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia secara berkelanjutan.

Similar Posts