Gambar 1. Tim Pengabdian bersama Guru dan siswa siswi SMK Perguruan Cikini-KIIC
Program yang memasuki tahun ketiga sekaligus tahun terakhir pelaksanaannya pada 2026 ini merupakan implementasi nyata Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Fokus utama kegiatan adalah menyusun silabus dan bahan ajar Bahasa Jepang vokasional yang selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri, terutama perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di kawasan Karawang International Industrial City (KIIC). Inisiatif ini berangkat dari tingginya kebutuhan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki kompetensi Bahasa Jepang dasar, tetapi juga memahami budaya kerja Jepang sebagai bekal memasuki industri. Hasil evaluasi pada pelaksanaan program di tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Jepang di tingkat SMK masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya belum tersedianya silabus yang dirancang khusus untuk kebutuhan industri serta perlunya peningkatan kapasitas guru dalam menyusun materi pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan dunia kerja.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pada tahun ketiga pelaksanaan program, tim PkM memfokuskan kegiatan pada workshop dan pendampingan penyusunan silabus Bahasa Jepang bagi siswa kelas X hingga XII dengan target kompetensi setara Japanese-Language Proficiency Test (JLPT) N5. Silabus yang disusun juga dilengkapi dengan bahan ajar yang dirancang agar mampu membekali siswa dengan kemampuan komunikasi praktis dalam lingkungan industri. Program pengabdian yang telah berjalan sejak tahun 2024 ini diawali dengan analisis kebutuhan pembelajaran Bahasa Jepang di SMK PerCik-KIIC, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan bahasa dan budaya kerja Jepang. Pada tahap akhir di tahun 2026, kegiatan difokuskan pada penyusunan silabus secara kolaboratif bersama guru-guru Bahasa Jepang SMK PerCik-KIIC yang berlangsung selama periode Mei hingga September 2026.
Dalam proses penyusunannya, tim PkM SV UGM berkolaborasi dengan pakar pengajaran Bahasa Jepang dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Viana M. Prasetio, M.Pd. Silabus dikembangkan melalui adaptasi berbagai sumber pembelajaran, seperti Minna no Nihongo I, Irodori, dan Rakuraku Nihongo, yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan komunikasi di lingkungan industri sehingga lebih aplikatif bagi siswa SMK yang dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja.
Ketua Tim PkM 2026, Dr. Sa’idatun Nishfullayli, M.Hum., menjelaskan bahwa penyusunan silabus ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat keterkaitan antara pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri.
“Silabus ini kami susun sebagai jembatan antara pembelajaran di sekolah dengan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Harapannya, siswa tidak hanya mampu berbahasa Jepang, tetapi juga memahami budaya kerja perusahaan Jepang sehingga memiliki kesiapan yang lebih baik ketika memasuki industri,” ujarnya.
Selain menghasilkan perangkat pembelajaran yang lebih relevan, program ini juga memperkuat kompetensi guru melalui pelatihan dan pendampingan berkelanjutan sehingga sekolah memiliki kapasitas untuk terus mengembangkan pembelajaran Bahasa Jepang sesuai perkembangan kebutuhan industri. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah menengah kejuruan, dan pakar pendidikan, Program Studi Kombispro SV UGM berharap model pengembangan silabus ini dapat menjadi praktik baik yang dapat direplikasi oleh SMK lain yang memiliki konsentrasi pendidikan berbasis industri.
Program ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan mutu pendidikan vokasi yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan pakar pendidikan dalam mengembangkan kurikulum yang relevan dan berkelanjutan.


Gambar 2. Persiapan Pembuatan Modul Ajar