Dari Ruang Kuliah ke Dunia Industri: Penelitian Ungkap Pengalaman Mahasiswa Magang dalam Penerjemahan Bahasa Jepang di Era Digital
Yogyakarta (1/11) – Pengalaman magang menjadi salah satu jembatan penting bagi mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata di dunia kerja. Melalui kegiatan magang, mahasiswa tidak hanya berkesempatan menerapkan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga belajar menghadapi tantangan profesional, beradaptasi dengan budaya kerja, serta mengikuti perkembangan teknologi di lingkungan industri. Hal tersebut menjadi perhatian Wury Wury Dwiwardani, dosen Program Studi Bahasa Jepang untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional (Jepang Kombispro), Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya (DBSMB), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui penelitian mengenai pengalaman mahasiswa dalam melaksanakan tugas penerjemahan bahasa Jepang selama menjalani kegiatan magang di dunia industri.

Penelitian ini secara khusus mengeksplorasi pengalaman mahasiswa dalam menerjemahkan berbagai dokumen tertulis serta memanfaatkan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), untuk mendukung penyelesaian pekerjaan. Penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam dengan empat mahasiswa yang telah menjalani magang selama empat hingga lima bulan pada semester genap Tahun Akademik 2025/2026. Wawancara dilaksanakan pada Agustus hingga Oktober 2026.
Dalam wawancara tersebut, mahasiswa menceritakan beragam tugas penerjemahan yang mereka kerjakan di perusahaan. Dokumen yang diterjemahkan mencakup instruksi dan prosedur kerja, laporan harian, dokumen kepegawaian, manual produk, serta berbagai dokumen operasional lainnya. Setiap dokumen memiliki karakteristik, tujuan, dan sasaran pembaca yang berbeda. Kondisi ini menuntut mahasiswa untuk tidak hanya menguasai bahasa Jepang, tetapi juga memahami konteks pekerjaan, istilah teknis, dan bidang industri tempat mereka menjalani magang.
Salah satu temuan menarik dari pengalaman mahasiswa adalah semakin pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam pekerjaan penerjemahan. Berbagai perangkat bantu penerjemahan dan teknologi berbasis AI dimanfaatkan untuk mempercepat proses kerja, membantu memahami kosakata baru, serta mencari padanan istilah teknis yang belum sepenuhnya dikuasai. Penggunaan teknologi tersebut menjadi semakin relevan karena mahasiswa menghadapi dokumen dengan terminologi khusus sesuai bidang dan aktivitas masing-masing perusahaan.
Meskipun demikian, pengalaman magang juga memberikan pemahaman bahwa teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam proses penerjemahan. Mahasiswa menyadari bahwa hasil terjemahan yang dihasilkan oleh teknologi tetap memerlukan pemeriksaan, penyuntingan, dan penyesuaian berdasarkan konteks serta kebutuhan pengguna. Penerjemah tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan ketepatan makna, kesesuaian istilah, dan kualitas hasil terjemahan.
Selain aspek ketepatan bahasa, mahasiswa juga mulai memahami pentingnya etika dalam pemanfaatan teknologi digital, khususnya AI generatif. Risiko kesalahan penerjemahan dan perlindungan kerahasiaan informasi perusahaan menjadi hal yang perlu diperhatikan. Dengan demikian, kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan sikap kritis, kecermatan, dan tanggung jawab profesional.
Berbagai pengalaman yang disampaikan mahasiswa menjadi masukan penting bagi pengembangan pembelajaran di Program Studi Bahasa Jepang untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional. Dinamika dunia industri menunjukkan bahwa kompetensi lulusan tidak cukup hanya bertumpu pada penguasaan bahasa Jepang. Mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan menerjemahkan sesuai konteks profesional, memahami terminologi bidang industri, menguasai teknologi digital, serta mampu mengambil keputusan secara tepat dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaan.
Penelitian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) dan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth). Melalui penggalian pengalaman mahasiswa selama magang, penelitian ini mendorong pengembangan pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan dunia industri serta penguatan keterampilan teknis dan profesional yang dibutuhkan di dunia kerja. Di sisi lain, pengalaman magang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk meningkatkan kesiapan kerja, mengembangkan kompetensi, dan beradaptasi dengan transformasi digital. Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi pendidikan tinggi dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan dunia kerja masa depan.
Melalui penelitian ini, pengalaman magang tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan kewajiban akademik, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran berharga untuk memahami perubahan praktik profesional di dunia industri.