
Dalam paparannya, Prof. Sue menekankan bahwa penelitian yang berkualitas selalu diawali dengan kemampuan peneliti mengidentifikasi research gap atau celah penelitian. Peneliti perlu mengkaji apa yang belum terjawab dalam penelitian-penelitian sebelumnya, kemudian mengembangkan pertanyaan penelitian yang mampu menghasilkan temuan baru dan memberikan kontribusi yang lebih mendalam terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Selain menemukan kebaruan, Prof. Sue juga mengajak para akademisi untuk terus memperkaya perspektif penelitian melalui eksplorasi isu-isu yang relevan. Menurutnya, pertanyaan penelitian yang dirancang secara kritis akan menghasilkan riset yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memiliki nilai praktis dalam menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah pentingnya membangun komunitas akademik sebagai ruang bertukar gagasan. Diskusi ilmiah, menurut Prof. Sue, sebaiknya tidak hanya dilakukan bersama mitra penelitian, tetapi juga melibatkan komunitas yang lebih luas agar peneliti memperoleh beragam perspektif dalam menyempurnakan desain maupun hasil risetnya.
Lebih lanjut, Prof. Sue menyoroti bahwa ukuran keberhasilan penelitian tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah publikasi, melainkan juga oleh dampak yang dihasilkan bagi masyarakat. Selama ini, orientasi penelitian sering kali berpusat pada target publikasi, sementara manfaat nyata bagi komunitas belum menjadi perhatian utama. Oleh karena itu, ia mendorong para peneliti untuk lebih melibatkan masyarakat dalam keseluruhan proses penelitian serta mengakui kontribusi komunitas yang berperan sebagai sumber data maupun mitra dalam menghasilkan pengetahuan baru.
Dalam sesi diskusi bersama dengan Dr. Rina Widiastuti, M.A., CHE selaku moderator juga turut dibahas tantangan yang dihadapi dosen dalam membangun budaya riset, terutama tingginya beban pengajaran yang sering kali membatasi waktu untuk membaca literatur, memperdalam kajian, dan mengembangkan penelitian secara berkelanjutan. Prof. Sue menegaskan bahwa budaya akademik yang kuat perlu dibangun melalui komitmen menyediakan waktu khusus untuk membaca, berdiskusi, dan melakukan refleksi ilmiah sebagai bagian dari rutinitas seorang peneliti.
Di akhir sesi, Prof. Sue juga mengingatkan pentingnya memandang proses peer review sebagai bagian dari pembelajaran. Reviewer bukan sekadar pihak yang memberikan penilaian terhadap naskah ilmiah, melainkan mitra yang membantu penulis meningkatkan kualitas argumentasi, metodologi, serta kontribusi ilmiah dari publikasi yang dihasilkan. Kegiatan sharing session ini memberikan wawasan berharga bagi para peserta mengenai strategi mengembangkan penelitian yang memiliki kebaruan, kualitas akademik, serta dampak nyata bagi masyarakat. Melalui diskusi ini diharapkan semakin tumbuh budaya riset yang kolaboratif, reflektif, dan berorientasi pada penyelesaian berbagai persoalan sosial melalui penelitian yang berkualitas.
Sejalan dengan komitmen tersebut, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kapasitas akademisi dalam menghasilkan penelitian berkualitas, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan inovasi berbasis riset, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) dengan mendorong kolaborasi antara akademisi, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menciptakan penelitian yang berdampak luas.