Kolaborasi Dosen S. Tr. BPW dan S. Tr. PARI SV UGM Menggali Sejarah Batik di Joglo nDalem Ambatik untuk Mendukung SDGs
BANTUL, YOGYAKARTA — Upaya pelestarian warisan budaya dapat dilakukan melalui penggalian sejarah, dokumentasi, dan pengembangan narasi yang menarik bagi wisatawan. Hal tersebut menjadi fokus penelitian kolaboratif dosen Program Studi Sarjana Terapan Bisnis Perjalanan Wisata (BPW) dan Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Arsip dan Rekaman Informasi (PARI), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM), tahun 2026 di Kalurahan Girirejo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggali sejarah dan mendokumentasikan warisan budaya batik di Joglo nDalem Ambatik untuk memperkuat daya tarik wisata budaya sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Joglo nDalem Ambatik, yang sebelumnya dikenal sebagai Joglo Hardjosoedarmo, merupakan rumah tradisional yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya pada 2017. Bangunan ini menyimpan jejak sejarah produksi batik yang berlangsung pada pertengahan abad ke-20. Pada masa itu, kawasan joglo tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi batik, tetapi juga menjadi tempat tinggal bagi sejumlah karyawan beserta keluarga mereka.
Keberadaan bangunan joglo, peralatan membatik, cap pola batik, dan kain batik yang masih tersimpan menjadi sumber informasi berharga untuk menelusuri perkembangan industri batik sekaligus kehidupan sosial masyarakat Girirejo pada masa lalu. Potensi tersebut menjadi landasan bagi tim peneliti untuk mengangkat kembali cerita sejarah yang belum banyak terdokumentasikan dan mengembangkannya sebagai bagian dari pengalaman wisata budaya.
Menggali Sejarah Lisan dan Memori Kolektif Masyarakat
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui wawancara dan dokumentasi dengan pendekatan kearsipan berbasis sejarah lisan (oral history) dan memori kolektif (collective memory). Pengumpulan informasi dilakukan dengan melibatkan masyarakat Kalurahan Girirejo yang pernah bekerja di lingkungan produksi batik Joglo nDalem Ambatik.
Proses pendokumentasian menghadapi tantangan karena sebagian mantan karyawan yang masih hidup kini berusia 70–90 tahun atau lebih. Jumlah mantan karyawan yang diperkirakan masih dapat memberikan kesaksian juga terbatas, yakni sekitar empat hingga lima orang. Kondisi ini menjadikan pendokumentasian sejarah lisan semakin penting agar pengalaman, pengetahuan, dan ingatan para pelaku sejarah dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui wawancara dan dokumentasi, tim peneliti berupaya merekonstruksi sejarah joglo, aktivitas produksi batik, peninggalan yang masih tersedia, serta kehidupan sosial para pekerja dan keluarga mereka. Informasi yang terkumpul kemudian diolah menjadi narasi sejarah atau storytelling yang dapat digunakan untuk memperkaya interpretasi dan penyampaian informasi kepada wisatawan.
Pendekatan ini memperluas pengalaman wisata edukasi batik. Wisatawan tidak hanya berkesempatan mempelajari praktik membatik, tetapi juga memahami proses produksi batik pada masa lalu, fungsi joglo sebagai ruang kerja sekaligus tempat tinggal, serta hubungan antara kegiatan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat Girirejo pada pertengahan abad ke-20.
Mendukung Pelestarian Budaya dan Pariwisata Berkelanjutan
Pengembangan storytelling sejarah di Joglo nDalem Ambatik diharapkan dapat memperkuat nilai edukasi dan daya tarik wisata budaya berbasis warisan lokal. Narasi sejarah yang bersumber dari kesaksian masyarakat dan dokumentasi peninggalan berpotensi menjadi media interpretasi yang membantu wisatawan memahami makna budaya di balik aktivitas membatik.
Penelitian ini juga berkontribusi terhadap pencapaian SDGs, terutama SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui upaya pelindungan dan pelestarian warisan budaya, serta SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan pembelajaran berbasis sejarah lokal dan pengalaman wisata edukatif. Selain itu, pengembangan narasi sejarah sebagai bagian dari daya tarik wisata budaya sejalan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), khususnya dalam mendorong pariwisata berkelanjutan yang mendukung budaya dan produk lokal.
Kolaborasi antara bidang bisnis perjalanan wisata dan pengelolaan arsip memperlihatkan pentingnya keterhubungan antara pelestarian informasi sejarah dan pengembangan produk wisata. Dokumentasi yang dilakukan tidak hanya berupaya menjaga ingatan tentang aktivitas produksi batik di masa lalu, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan pengetahuan sejarah sebagai sumber pembelajaran dan pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Melalui penelitian ini, Joglo nDalem Ambatik diharapkan dapat semakin dikenal sebagai ruang pelestarian memori kolektif masyarakat sekaligus destinasi wisata edukasi yang menghadirkan pengalaman lebih mendalam tentang sejarah batik di Girirejo. Dengan demikian, warisan budaya tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan fisik, tetapi juga dihidupkan melalui cerita, pengetahuan, dan pengalaman yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.