Menghidupkan Teks ke Konteks dalam Pementasan Paket Wisata Jamadagni Mokswa oleh Yayasan Irama Tjitra
Yogyakarta (30/10) – Pelestarian seni tradisi tidak hanya dilakukan melalui upaya mempertahankan bentuk pertunjukan, tetapi juga melalui pengembangan interpretasi yang mampu menghubungkan warisan budaya dengan kehidupan masyarakat masa kini. Hal tersebut menjadi perhatian dalam penelitian Cerry Surya Pradana, dosen Program Studi D4 Bisnis Perjalanan Wisata (BPW) Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya (DBSMB), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM), yang mengangkat pementasan Jamadagni Mokswa oleh Yayasan Irama Tjitra sebagai bagian dari pengembangan paket wisata budaya.

Pementasan Jamadagni Mokswa yang diselenggarakan di Keraton Yogyakarta pada 3 Oktober 2026 merupakan upaya menghadirkan kembali kekayaan cerita tradisi melalui seni pertunjukan yang kontekstual. Yayasan Irama Tjitra, yang berdiri sejak 25 Desember 1949, merupakan lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan dan pementasan tari klasik gaya Yogyakarta. Pementasan ini tidak sekadar menjadi ruang representasi cerita masa lalu, tetapi juga media untuk merefleksikan nilai-nilai kehidupan yang relevan dengan dinamika masyarakat kontemporer.
Penelitian ini menyoroti proses kreatif penyusunan naskah dengan pendekatan teks ke konteks. Dalam pendekatan tersebut, teks tradisi tidak diperlakukan semata-mata sebagai materi cerita yang harus dipindahkan secara utuh ke atas panggung. Sebaliknya, teks diposisikan sebagai sumber gagasan, nilai, dan filosofi yang dapat ditafsirkan kembali melalui proses kreatif. Pengembangan dramaturgi dilakukan dengan mempertimbangkan situasi sosial, budaya, serta berbagai persoalan kehidupan masa kini. Dengan demikian, naskah menjadi jembatan dialog antara warisan masa lalu dan realitas masyarakat sekarang tanpa menghilangkan substansi cerita yang dibawakan.
Penelitian ini berkontribusi terhadap pencapaian SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pelestarian dan pewarisan pengetahuan seni tari klasik serta nilai-nilai budaya kepada generasi muda; SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan seni pertunjukan sebagai bagian dari ekonomi kreatif dan daya tarik wisata budaya; serta SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan warisan budaya secara berkelanjutan. Pendekatan teks ke konteks dalam pementasan Jamadagni Mokswa menunjukkan bahwa inovasi dalam seni pertunjukan dapat memperkuat relevansi tradisi sekaligus mendukung keberlanjutan budaya lokal.
Melalui kajian ini, Cerry Surya Pradana menunjukkan bahwa pelestarian seni tradisi tidak harus berhenti pada reproduksi bentuk pertunjukan yang telah ada. Tradisi justru dapat terus hidup melalui interpretasi, kreativitas, dan dialog dengan perkembangan zaman. Pengembangan pementasan seni tradisi sebagai bagian dari paket wisata budaya juga membuka peluang untuk memperluas apresiasi masyarakat dan wisatawan terhadap warisan budaya Yogyakarta. Dengan demikian, pengembangan seni pertunjukan dapat berjalan beriringan dengan upaya perlindungan dan pelestarian budaya, sehingga tradisi tetap memiliki ruang hidup, relevansi, dan keberlanjutan di tengah perubahan zaman.