UNIVERSITAS GADJAH MADA
SEKOLAH VOKASI
DEPARTEMEN BAHASA, SENI DAN MANAJEMEN BUDAYA

UNIVERSITAS GADJAH MADA
SEKOLAH VOKASI
DBSMB

| | | |

Riset SV UGM Ungkap Peran Bahasa dan Aksara Jawa dalam Menjaga Warisan Budaya Kotagede

Yogyakarta (30/10) – Pelestarian warisan budaya tidak hanya dilakukan melalui perlindungan bangunan bersejarah dan benda cagar budaya, tetapi juga melalui penggunaan bahasa dan aksara lokal di ruang publik. Di kawasan Kotagede, Yogyakarta, keberadaan Bahasa Jawa dan Aksara Jawa pada papan nama usaha serta penanda publik menjadi bagian penting dalam mempertahankan identitas budaya sekaligus memperkenalkan sejarah kawasan kepada masyarakat dan wisatawan. Hal tersebut terungkap dalam penelitian berjudul “Menjaga Warisan Budaya di Ruang Publik: Aksara dan Bahasa Jawa dalam Lanskap Linguistik Kotagede Yogyakarta” yang dilakukan oleh Nur Endah Nugraheni dan Nabilla Kusuma Vardhani dari Program Studi D4 Bahasa Inggris, Departemen Bahasa, Seni dan Manajemen Budaya (DBSMB), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM). Penelitian yang didanai melalui Dana Masyarakat (Damas) SV UGM Tahun 2026 ini mengkaji penggunaan bahasa dan aksara dalam lanskap linguistik di koridor komersial Kotagede dan Malioboro.

Gambar 1. Salah satu lokasi penelitian yang menggunakan aksara jawa
Gambar 1. Salah satu lokasi penelitian yang menggunakan aksara jawa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanda publik di Kotagede masih memperlihatkan kuatnya penggunaan Bahasa Jawa. Sebanyak 15,56 persen penanda menggunakan Bahasa Jawa secara monolingual, sedangkan 31,11 persen lainnya menggunakan kombinasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa daerah tetap memiliki posisi penting dalam komunikasi publik, khususnya di kawasan yang memiliki nilai sejarah dan identitas budaya yang kuat.

Melalui pendekatan Systemic Functional Linguistics (SFL), penelitian ini juga mengungkap bahwa papan nama usaha tidak hanya berfungsi sebagai penanda lokasi atau petunjuk arah (wayfinding), tetapi dapat menjadi media untuk menyampaikan narasi sejarah dan pengetahuan budaya kepada pengunjung. Salah satu contohnya terlihat pada usaha perak Songo Selawe. Nama tersebut menggunakan Bahasa Jawa untuk merepresentasikan angka 925, yang merujuk pada standar kemurnian perak sebesar 92,5 persen. Pemilihan nama lokal ini tidak hanya memberikan identitas khas bagi usaha, tetapi juga menghubungkan aktivitas ekonomi kreatif dengan sejarah Kotagede sebagai sentra kerajinan perak yang memiliki keterkaitan erat dengan warisan Kerajaan Mataram Islam.

Contoh lainnya ditemukan pada Kopi Omah Kalang. Penggunaan istilah Omah Kalang mempertahankan memori historis bangunan yang berkaitan dengan komunitas saudagar Kalang pada masa lalu. Bangunan bersejarah yang berasal dari tahun 1842 tersebut menjadi bagian dari daya tarik kawasan. Melalui penggunaan nama berbahasa Jawa, identitas bangunan dan sejarah sosial Kotagede tetap hadir dalam aktivitas komersial masa kini. Dengan demikian, papan nama usaha turut menjadi medium yang menghubungkan pengalaman menikmati produk dengan pengenalan sejarah lokal.

Selain penggunaan Bahasa Jawa dalam bentuk tulisan Latin, penelitian ini juga menemukan penggunaan transliterasi Aksara Jawa pada sejumlah penanda komersial dan fasilitas umum. Kehadiran aksara tradisional tersebut memiliki fungsi simbolis sebagai representasi identitas budaya Yogyakarta di ruang publik. Penggunaan Aksara Jawa memperlihatkan bahwa warisan budaya tidak hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat dihadirkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Temuan ini menunjukkan bahwa lanskap linguistik memiliki peran lebih luas daripada sekadar menyampaikan informasi. Pilihan bahasa dan aksara pada ruang publik dapat membangun suasana khas suatu kawasan, memperkuat identitas destinasi, serta memberikan pengalaman wisata yang lebih autentik. Bagi wisatawan, keberadaan bahasa dan aksara lokal juga menjadi pintu masuk untuk mengenali sejarah, nilai, dan karakter budaya masyarakat setempat.

Penelitian ini memiliki keterkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan, terutama Target 11.4 yang menekankan penguatan upaya perlindungan dan pelestarian warisan budaya dan alam dunia. Penggunaan Bahasa Jawa dan Aksara Jawa dalam lanskap publik menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya melalui praktik sosial dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Melalui penelitian ini, Nur Endah Nugraheni dan Nabilla Kusuma Vardhani menyoroti pentingnya integrasi pelestarian bahasa dan aksara lokal dalam pengembangan kawasan wisata berbasis warisan budaya. Pelestarian identitas lokal dan pertumbuhan aktivitas pariwisata tidak harus berjalan secara terpisah. Sebaliknya, keduanya dapat saling mendukung melalui pengelolaan ruang publik yang tetap menghargai sejarah, bahasa, dan karakter budaya setempat. Dengan demikian, Kotagede tidak hanya dikenal sebagai kawasan wisata sejarah dan kerajinan perak, tetapi juga sebagai ruang hidup tempat bahasa dan aksara Jawa terus digunakan, ditampilkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Similar Posts