Penelitian SV UGM Soroti Kesenjangan Kompetensi Mahasiswa dalam Praktik Industri sebagai Masukan Pengembangan Kurikulum
Yogyakarta (30/10) – Praktik Industri menjadi salah satu bentuk pembelajaran penting bagi mahasiswa pendidikan vokasi untuk mengenal dunia kerja secara langsung. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga belajar memahami budaya organisasi, membangun komunikasi profesional, bekerja dalam tim, serta menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan kerja. Pengalaman Praktik Industri tersebut menjadi perhatian tim dosen Program Studi Bahasa Jepang untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional (B.Jepang Kombispro), Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya (DBSMB), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM). Penelitian ini mengkaji pelaksanaan Praktik Industri sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi mahasiswa, khususnya terkait kesesuaian antara kompetensi yang telah diperoleh selama perkuliahan dan kebutuhan dunia kerja.

Di Program Studi Bahasa Jepang Kombispro, mahasiswa menjalani Praktik Industri pada semester IV dengan durasi sekitar satu hingga dua bulan. Kegiatan ini dilaksanakan di berbagai mitra, mulai dari perusahaan, hotel, sekolah, lembaga pemerintahan, penerbitan, hingga industri kreatif. Pada tahap tersebut, mahasiswa masih berada dalam proses pengembangan kompetensi akademik dan keterampilan profesional. Oleh karena itu, Praktik Industri menjadi pengalaman transisi yang mempertemukan pembelajaran di bangku kuliah dengan realitas pekerjaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memperoleh beragam pengalaman baru selama menjalani Praktik Industri. Mereka dituntut untuk mampu bekerja sama dalam tim, berkomunikasi dengan atasan, rekan kerja, maupun klien, serta menyelesaikan tugas yang tidak seluruhnya pernah dipelajari dalam perkuliahan. Mahasiswa juga perlu memahami dan menyesuaikan diri dengan budaya kerja serta pola komunikasi yang berlaku di masing-masing institusi.
Namun, proses adaptasi tersebut tidak selalu berjalan mudah. Penelitian yang dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap enam mahasiswa semester IV peserta Praktik Industri menemukan adanya kesenjangan antara ekspektasi tempat kerja dan kompetensi mahasiswa yang masih berada dalam tahap pembelajaran. Sebagian mahasiswa merasakan bahwa tuntutan pekerjaan cukup berat, terutama ketika harus menangani tanggung jawab dan menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan yang belum sepenuhnya mereka kuasai.
Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, mahasiswa mengembangkan strategi secara mandiri untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja. Pengalaman ini menunjukkan bahwa Praktik Industri tidak hanya menjadi sarana penerapan keterampilan teknis, tetapi juga ruang pembelajaran untuk membangun kemandirian, kemampuan beradaptasi, pemecahan masalah, dan kepercayaan diri. Mahasiswa secara bertahap belajar memahami tanggung jawab profesional sekaligus membentuk identitas sebagai calon tenaga kerja.
Temuan mengenai kesenjangan kompetensi tersebut menjadi masukan penting bagi pengembangan pendidikan vokasi, khususnya dalam peninjauan kurikulum Program Studi Bahasa Jepang Kombispro. Pemetaan kebutuhan kompetensi di dunia kerja perlu diselaraskan dengan materi dan capaian pembelajaran pada setiap semester agar mahasiswa memiliki bekal yang lebih memadai sebelum memasuki lingkungan profesional.
Melalui penelitian ini, pengalaman mahasiswa selama Praktik Industri diharapkan dapat menjadi dasar evaluasi terhadap relevansi mata kuliah, urutan pembelajaran, serta penguatan kompetensi yang dibutuhkan oleh mitra industri. Dengan demikian, pengembangan kurikulum tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi akademik, tetapi juga mempertimbangkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dinamika dan tuntutan dunia kerja.
Penelitian ini menegaskan pentingnya keterhubungan antara pembelajaran di perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Praktik Industri perlu dipandang sebagai bagian strategis dari proses pendidikan vokasi yang memberikan gambaran nyata mengenai kompetensi profesional yang harus dipersiapkan. Hasilnya diharapkan dapat mendukung pengembangan kurikulum Bahasa Jepang vokasional yang lebih adaptif, relevan, dan responsif terhadap kebutuhan dunia kerja.