Gambar 1. Peserta fellowship bersama Sekretaris Departemen DBSMB dan PIC kegiatan
Peserta fellowship tahun ini, Isabella Ruth Heilman, akan mengikuti program selama delapan minggu yang mengkombinasikan pembelajaran akademik, pengenalan budaya Indonesia, pengabdian kepada masyarakat, serta implementasi proyek berbasis komunitas melalui pendekatan Wellness Living Lab yang dikembangkan oleh Sekolah Vokasi UGM.Program ini merupakan hasil kerja sama antara SV UGM dan VIA yang bertujuan memberikan pengalaman pembelajaran lintas budaya sekaligus memperkuat kolaborasi global dalam pengembangan masyarakat. Melalui program ini, peserta tidak hanya mempelajari konteks sosial dan budaya Indonesia, tetapi juga terlibat langsung dalam proses identifikasi kebutuhan masyarakat, perancangan solusi, hingga implementasi program bersama warga.
Sekretaris Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya SV UGM sekaligus koordinator kerja sama program, Erlin Estiana Yuanti, menjelaskan bahwa fellowship ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam dibandingkan program pertukaran akademik konvensional.
“Melalui pendekatan immersive learning, peserta tidak hanya datang untuk belajar tentang Indonesia, tetapi juga hidup bersama masyarakat, memahami tantangan yang mereka hadapi, dan berkolaborasi dalam menghasilkan solusi yang relevan dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Muhamad Sidiq Wicaksono, S.E., M.Sc., C.H.E., selaku PIC Wellness Living Lab sekaligus Academic Coordinator Global Community Fellowship, menjelaskan bahwa program ini mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan pengalaman lapangan yang berfokus pada pengembangan potensi lokal dan kesejahteraan masyarakat.
“Melalui pendekatan Living Lab, peserta diajak untuk belajar langsung dari masyarakat dan bersama-sama mengembangkan solusi yang kontekstual. Kami berharap pengalaman ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya kolaborasi lintas budaya dalam pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.
Selama empat minggu pertama, peserta akan tinggal di Asrama Ratnaningsih Kinanti UGM dan mengikuti berbagai kegiatan orientasi, pelatihan bahasa dan budaya Indonesia, kunjungan lapangan, serta persiapan proyek. Memasuki minggu kelima hingga kedelapan, peserta akan tinggal bersama keluarga angkat di Desa Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, untuk menjalani pengalaman homestay dan implementasi proyek secara langsung di masyarakat. Di hari-hari awal program, Isabella mengungkapkan kesan positifnya terhadap pengalaman tinggal di Yogyakarta. Menurutnya, suasana kota yang nyaman membuat proses adaptasi berjalan lebih mudah.
“Saya sangat menikmati cuaca di Yogyakarta. Tidak terlalu panas dan terasa nyaman untuk beraktivitas sehari-hari. Selain itu, semua makanan yang saya coba sejauh ini sangat enak,” ungkap Isabella.
Ia juga mengaku tertarik dengan berbagai diskusi yang diperolehnya selama program, khususnya mengenai gastronomi Indonesia yang memperlihatkan hubungan erat antara makanan, budaya, dan identitas masyarakat.
“Salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah diskusi mengenai gastronomi. Saya belajar bahwa makanan tidak hanya tentang rasa, tetapi juga tentang sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat. Ini memberikan perspektif baru yang sangat menarik bagi saya,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat mengembangkan kemampuan komunikasi lintas budaya, memahami pendekatan pembangunan berbasis masyarakat, serta mengaplikasikan pengetahuan akademiknya dalam konteks nyata. Di sisi lain, masyarakat dan mitra lokal juga memperoleh manfaat melalui pertukaran pengetahuan, perspektif global, dan kolaborasi dalam pengembangan potensi desa.
Program Global Community Fellowship menjadi salah satu wujud komitmen Sekolah Vokasi UGM dalam mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menciptakan dampak sosial melalui kolaborasi global dan pemberdayaan masyarakat. Melalui pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), program ini memberikan ruang bagi peserta untuk belajar secara langsung dari masyarakat sekaligus berkontribusi dalam pengembangan potensi lokal.
Program ini juga sejalan dengan sejumlah tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penyediaan pengalaman belajar lintas budaya yang inklusif dan berkualitas; SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui penguatan komunitas lokal dan pelestarian budaya; serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada, Volunteers in Asia (VIA), University of Oregon, dan masyarakat setempat. Selain itu, fokus program pada Wellness Living Lab dan pengembangan kualitas hidup masyarakat turut mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya peningkatan kesejahteraan komunitas berbasis kearifan lokal.
Melalui Global Community Fellowship, Sekolah Vokasi UGM berharap dapat terus memperluas jejaring internasional, memperkuat kolaborasi akademik dan komunitas, serta menghadirkan pengalaman pembelajaran yang tidak hanya berdampak bagi peserta, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal maupun global.