Yogyakarta (26/1) – Dalam rangka memperluas wawasan sosial dan kemanusiaan, relawan yang tergabung dalam kegiatan 49th World Friends Korea (WFK) Youth Volunteer Program bersama mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan kunjungan edukatif ke Jogja Disability Arts Center dan Human Initiative. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai inklusi sosial, pemberdayaan komunitas, serta ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Pada kunjungan ke Jogja Disability Arts Center, peserta diajak mengenal lebih dekat peran seni sebagai media pemberdayaan bagi penyandang disabilitas. Melalui dialog dan observasi langsung, peserta mempelajari berbagai aktivitas kreatif yang dikembangkan komunitas, serta bagaimana seni menjadi sarana ekspresi diri, membangun kepercayaan diri, dan mendorong inklusi sosial. Peserta juga mengikuti workshop pembuatan ecoprint yang dipandu langsung oleh instruktur penyandang disabilitas, sehingga tercipta ruang belajar yang setara dan partisipatif. Selain itu, peserta memperoleh pemahaman mengenai isu diskriminasi terhadap penyandang disabilitas, cara berinteraksi secara tepat dan penuh hormat, serta penjelasan tentang karya-karya lukisan para seniman disabilitas beserta makna yang terkandung di dalamnya. Melalui pengalaman ini, diharapkan tumbuh empati, kesadaran inklusif, serta penghargaan terhadap potensi setiap individu tanpa memandang keterbatasan fisik.
Sementara itu, kunjungan ke Human Initiative memberikan wawasan komprehensif mengenai peran lembaga kemanusiaan dalam bidang sosial, lingkungan, dan kebencanaan. Peserta memperoleh paparan terkait program pemberdayaan masyarakat serta strategi peningkatan ketangguhan warga dalam menghadapi risiko bencana. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, peserta mengunjungi Desa Argomulyo di wilayah Cangkringan, yang dikenal sebagai desa tangguh bencana (Destana) dan pernah terdampak erupsi Gunung Merapi. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai peristiwa erupsi dan peran relawan desa dalam proses pemulihan, peserta melakukan kegiatan napak tilas ke beberapa lokasi penting seperti bunker perlindungan, Museum Sisa Hartaku, hunian tetap (huntap), serta area terdampak parah akibat erupsi.

Gambar 2. Kunjungan ke Human Initiative di Desa Argomulyo, Cangkringan
Pengalaman langsung di lapangan memberikan refleksi mendalam mengenai pentingnya kesiapsiagaan bencana, solidaritas kemanusiaan, dan peran aktif masyarakat dalam proses pemulihan pascabencana. Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa pembangunan masyarakat tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga pada penguatan kapasitas sosial dan kemanusiaan.
Rangkaian kunjungan ini sejalan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui penguatan inklusi bagi penyandang disabilitas, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui edukasi ketangguhan bencana, SDG 13 (Climate Action) melalui peningkatan kesadaran mitigasi risiko bencana, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara relawan internasional, mahasiswa UGM, lembaga sosial, dan masyarakat lokal. Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta tidak hanya memperoleh pengalaman belajar lintas budaya, tetapi juga membawa pulang nilai empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari warga global.