Kulon Progo (23/1) – Dalam rangka memperkuat pertukaran budaya dan memperluas wawasan global sejak usia dini, kegiatan 49th World Friends Korea (WFK) Youth Volunteer Program menghadirkan program Edukasi Budaya Korea bagi siswa-siswi SD Karangwuni, Kulonprogo. Selama dua minggu, relawan Korea bersama mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengajak anak-anak mengenal kekayaan budaya Korea melalui pembelajaran interaktif, kreatif, dan menyenangkan. Program ini merupakan bagian dari kolaborasi bersama World Friends Korea (WFK) yang mendorong diplomasi budaya dan penguatan kerja sama internasional di bidang pendidikan.
Selama dua minggu, siswa siswi SD Karangwuni memulai kegiatan dengan sesi Mengenal Korea dan Hangeul, di mana anak-anak diajak menemukan letak Korea dan Indonesia pada bola dunia untuk memahami posisi geografis kedua negara. Mereka kemudian dikenalkan pada huruf Hangeul dan menuliskan nama masing-masing menggunakan aksara Korea sebagai pengalaman literasi lintas budaya yang bermakna.
Pembelajaran budaya dilanjutkan melalui permainan tradisional Korea seperti Tuho, yaitu melempar anak panah ke dalam wadah, serta Biseokchigi, permainan menjatuhkan balok atau batu lawan dengan lemparan. Aktivitas ini tidak hanya melatih ketangkasan, tetapi juga memperkenalkan nilai kebersamaan dan sportivitas dalam budaya Korea. Anak-anak juga dikenalkan pada lukisan rakyat Korea Hojakdo, yang menggambarkan harimau dan burung murai sebagai simbol keberanian dan keberuntungan. Sebagai tindak lanjut, siswa membuat gantungan kunci berbentuk harimau untuk menumbuhkan kreativitas dan apresiasi seni tradisional.
Dalam sesi berikutnya, siswa mempelajari pakaian tradisional Korea Hanbok melalui kegiatan membuat hanbok dari origami serta menggambar empat musim di Korea untuk memahami perbedaan iklim dan lanskap budaya. Permainan kelompok seperti Ollemttaeng (mencari kelompok saat musik berhenti) dan Donggeulge (permainan pemburu dan penguin dalam lingkaran) turut memeriahkan suasana, membangun kerja sama tim, dan meningkatkan interaksi sosial antar siswa.
Sebagai bagian dari pengenalan seni bela diri, anak-anak berlatih gerakan dasar Taekwondo serta menyaksikan Taekwonmu, yaitu gerakan taekwondo yang dipadukan dengan musik, sehingga menampilkan harmoni antara olahraga dan seni. Kegiatan semakin lengkap dengan sesi mendengarkan dongeng tradisional Korea Haenim Dalnim (kisah Matahari dan Bulan), yang kemudian dituangkan dalam pembuatan buku dongeng kreatif bersama.
Selain itu, siswa juga membuat kerajinan tradisional seperti Buchae (kipas tangan) yang dihias dengan gambar kreatif serta Norigae, aksesori khas hanbok yang dibuat dari bahan origami. Melalui aktivitas ini, anak-anak tidak hanya belajar tentang budaya Korea, tetapi juga mengembangkan keterampilan motorik, kreativitas, dan rasa percaya diri.

Gambar 2. Mahasiswa World Friends Korea bersama siswa siswa SDN Karangwuni
Program Edukasi Budaya Korea ini sejalan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui pembelajaran berbasis pengalaman dan kreativitas, SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui penguatan nilai saling menghormati dan toleransi budaya, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi internasional antara relawan Korea dan mahasiswa UGM. Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa SD Karangwuni tumbuh sebagai generasi yang terbuka terhadap keberagaman budaya, memiliki wawasan global, dan menjunjung tinggi semangat persahabatan antarbangsa.