
Pada pengantar sebuah buku yang terbit tahun 2017, Eric Ketelaar, seorang ahli dalam ilmu kearsipan berujar: “Almost two decades ago, in an article in The American Archivist, I argued that research in archivistics (or: archival science) would save the archival profession, because research is the instrument for experimenting, inventing, changing, and improving – and a profession that is not involved in “The endless cycle of idea and action, endless invention, endless experiment” (T.S. Eliot) is doomed (Ketelaar, 2000; 2017). Dalam 10 tahun karier saya sebagai pengajar kearsipan, dengan latar belakang sejarah, saya terus mencoba bereksperimen untuk menghubungkan ilmu kearsipan dan kajian sejarah. Sebab seberapa pun dekat kedua ilmu itu pada suatu masa, mereka berpisah ketika kearsipan resmi berdiri sendiri sebagai ilmu sekitar abad 19, yang kemudian mengubah orientasi kearsipan untuk lebih mendekat pada bidang administrasi.
Satu tema khusus yang saya pelajari adalah archival turn, yang menurut beberapa ahli merupakan pergeseran dari konsep arsip sebagai objek netral yang menghasilkan realitas objektif ke pandangan bahwa arsip perlu dilihat sebagai ranah di mana arsip merupakan produk budaya (Ketelaar, 2017: 228; Stoler, 2002) sehingga sangat subyektif. Beberapa aspek lain yang secara luas diakui sebagai faktor penyumbang subyektivitas antara lain proses ‘appraisal’ (Schellenberg, 2003), sebuah proses untuk memutuskan arsip mana yang layak dilestarikan sebagai arsip, dan ‘klasifikasi’ dalam arsip. Lebih lanjut, studi ini berargumen bahwa proses ‘penciptaan dan pemanfaatan’ juga merupakan faktor kuat dalam subyektivitas, seperti konteks siapa pencipta dan mengapa sebuah arsip diproduksi. Konteks penciptaan ini dalam ilmu kearsipan kemudian dikenal dengan istilah provenance. Dalam metode sejarah, sesungguhnya archival turn telah menciptakan pergeseran Great Tradition dalam kritik sumber ke metode pengenalan asal usul seperti genealogi, genesis, dan orisinalitas dokumen (Howell dan Prevenier 2001).
Dalam studi terbaru tentang peralihan arsip, Li Su (2025: 61) menjelaskan bahwa archival turn telah mengubah pemahaman secara ontologis dan epistemologis, tetapi masih menyisakan pertanyaan apakah archival turn dapat mencapai pergeseran metodologis dalam penulisan sejarah. Studi ini mencoba memasukkan penciptaan dan penggunaan plakat sebagai media penyampaian informasi sebagai variabel yang juga layak dianalisis. Oleh karena itu, plakat dikaji secara individual, berdasarkan karakternya sebagai media informasi tunggal, dan tidak memperluas data sumber ke arsip lain seperti surat dan/atau surat kabar, meskipun direkomendasikan bagi mahasiswa sejarah. Keterbatasan ini karena studi ini ingin menekankan informasi tentang hal yang sama (rumor) selama periode rezim untuk mencari konsistensi kebijakan.
Penelitian saya berjudul Recognizing Reliable Information in Daendels’ Maritime Defence Strategy 1810: Rumours Analysis from the Placards merupakan salah satu upaya implementasi pendekatan provenance dalam sebuah studi sejarah pengambilan keputusan. Prinsip pengambilan keputusan secara tradisional dikaitkan dengan kecukupan informasi yang andal untuk membentuk alternatif pilihan pemecahan masalah, sementara informasi yang andal umumnya harus akurat untuk mewakili kebenaran. Metode pengambilan keputusan ini, kemudian mengarah pada pemahaman tentang ‘rasionalitas’ seseorang atau kelompok. Pengukuran informasi yang andal sering kali didasarkan pada konsistensinya jika dibandingkan dengan bukti lain, artinya jika dikonfirmasi, akan menjadi informasi yang objektif. Artikel ini mengklaim bahwa informasi yang andal dapat diukur tidak hanya berdasarkan kebenarannya, tetapi juga dapat didasarkan pada daya hasutnya, terutama dalam memobilisasi publik. Namun, dalam iklim kepercayaan publik yang rendah terhadap pemerintah, memotivasi mereka untuk mendukung kebijakan pemerintah bukanlah pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu, keandalan dan kepercayaan menjadi dua poin kunci untuk menganalisis kebijakan Daendels, sebagai perwakilan rezim Perancis di Jawa, dalam menahan serangan Inggris ke Jawa pada tahun 1811. Menggunakan rumor sebagai dasar kebijakan, Daendels mengumumkan strategi militernya di Batavia melalui media plakat (Belanda: plakkaat). Praktiknya adalah pengambilan keputusan yang tidak biasa. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk memahami preferensi Daendels terhadap konsep informasi yang andal. Penggunaan plakat sebagai sumber juga berkontribusi pada studi komunikasi publik di era Daendels, terutama dalam pemilihan ‘medium’ untuk menyebarkan informasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter militer Daendels tentu saja memungkinkannya mengambil keputusan dengan metode yang tidak biasa, semacam akal sehat lain terkait rumor dan pengambilan keputusan. Namun, kita keliru jika berpikir bahwa ia tidak mempertimbangkan kebenaran dalam informasi tersebut, padahal konsep informasi yang andal tentu saja tidak berbeda dengan saat ini. Isi rumor lain pada plakat tersebut juga membuktikan bahwa rumor dilarang karena dapat menimbulkan kegaduhan, sehingga kasus ini betul-betul sebuah pengecualian. Ia tahu bahwa invasi Inggris pasti akan terjadi, dan kita tahu sekarang bahwa hal itu akhirnya terjadi, tetapi ia tetap menggunakan label rumor. Kekuatan hasutan rumor jelas menambahkan elemen lain pada konsep informasi yang andal. Tampaknya ia berpikir bahwa strateginya akan berhasil jika ia berpihak pada publik dengan menggunakan label rumor dalam opini publik sebagai strategi, untuk menunjukkan bahwa pendapat tersebut didengarkan dan ditanggapi serius oleh pemerintah. Selain itu, meskipun plakat tampak sebagai media satu arah untuk menyebarkan informasi, studi ini menunjukkan bahwa penggunaan rumor sebagai dasar kebijakan meningkatkan daya persuasifnya. Hal ini karena rumor pada dasarnya merupakan hasil dialog publik yang organik. Komunikasi ini, mungkin, disebut sebagai diakronis omnidirectional oleh van Ruler (2018), yang menyediakan arena untuk presentasi, negosiasi, konstruksi, dan rekonstruksi makna. Akhirnya, tanpa menggunakan pendekatan asal-usul, tampaknya sulit bagi saya untuk memahami mengapa rumor dan plakat menjadi ‘media’ yang begitu ampuh untuk memobilisasi masyarakat yang sedang memiliki kepercayaan rendah terhadap pemerintahnya. Kini, dengan membaca studi ini, mungkin para pembaca dapat membantu saya menjawab apakah archival turn telah mampu mengubah metodologi sejarah dan menghasilkan pembacaan yang berbeda.

Lillyana adalah pengajar pada program studi Pengelolaan Arsip dan Rekaman Informasi, Universitas Gadjah Mada.