Dari Naskah ke Sajian: Menghidupkan Kembali Warisan Kuliner Pawukon untuk Wisata Gastronomi Kulon Progo
Kulonprogo (29/9) – Desa Wisata Sidorejo, Kulon Progo, menjadi lokasi penelitian Handayani Rahayuningsih, dosen Program Studi Sarjana Terapan Bisnis Perjalanan Wisata (BPW), Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya (DBSMB), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM). Penelitian ini bertujuan menghubungkan warisan budaya masa lalu dengan pengembangan pariwisata masa kini melalui rekonstruksi kuliner tradisional yang tercantum dalam kitab Pawukon sebagai potensi wisata gastronomi berbasis kearifan lokal.

Penelitian ini merekonstruksi kuliner tradisional yang tercantum dalam kitab Pawukon, naskah warisan budaya Jawa yang menyimpan pengetahuan mengenai tradisi, filosofi kehidupan, serta praktik kuliner masyarakat Jawa. Melalui rekonstruksi tersebut, pengetahuan kuliner yang diwariskan secara turun-temurun diharapkan dapat dilestarikan sekaligus dikembangkan sebagai potensi wisata gastronomi berbasis kearifan lokal.
Pawukon merupakan sistem penanggalan tradisional Jawa yang membagi satu siklus menjadi 30 wuku. Selain menjadi bagian dari sistem pengetahuan tentang waktu, tradisi Pawukon berkaitan dengan beragam praktik budaya masyarakat Jawa, termasuk pemanfaatan tanaman herbal, bahan pangan lokal, dan tradisi kuliner yang diwariskan lintas generasi. Pengetahuan tersebut menjadi landasan bagi penelitian untuk merekonstruksi sajian tradisional berdasarkan referensi kuliner yang berkaitan dengan masing-masing wuku.
Penelitian yang berlangsung selama beberapa bulan ini menghasilkan 30 menu kuliner yang merepresentasikan 30 wuku. Setiap menu dikembangkan dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan pangan lokal serta makna simbolis yang melekat pada tradisi kuliner Jawa. Hasil rekonstruksi tersebut tidak hanya menghadirkan kembali ragam sajian tradisional, tetapi juga mendokumentasikan pengetahuan lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi daya tarik wisata budaya.
“Rekonstruksi kuliner Pawukon ini adalah upaya kami untuk menghidupkan kembali warisan budaya yang hampir terlupakan,” ujar Handayani. Menurutnya, pengetahuan pangan masyarakat Jawa menunjukkan bahwa makanan memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar pemenuhan kebutuhan nutrisi, yakni sebagai bagian dari kehidupan spiritual, sosial, dan budaya masyarakat.
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah keterkaitan menu-menu Pawukon dengan tradisi sedekah yang dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar menolak bala. Praktik tersebut memperlihatkan hubungan antara makanan, doa, dan keyakinan masyarakat terhadap keseimbangan kehidupan. Pemilihan bahan, jenis hidangan, hingga cara penyajian menjadi bagian dari tradisi yang mencerminkan nilai-nilai budaya masyarakat Jawa.
Proses rekonstruksi kuliner melibatkan partisipasi masyarakat setempat, terutama perempuan dan petani yang memiliki pengetahuan mengenai bahan pangan lokal. Pengumpulan informasi dilakukan melalui wawancara mendalam, dokumentasi praktik kuliner, serta uji coba resep dengan melibatkan generasi muda. Keterlibatan masyarakat tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan kuliner tradisional. Melalui interaksi antargenerasi, pengetahuan yang sebelumnya tersimpan dalam ingatan, kebiasaan, dan praktik masyarakat dapat didokumentasikan serta diperkenalkan kembali kepada khalayak yang lebih luas.
Keberagaman 30 menu yang dihasilkan juga memperlihatkan kekayaan sumber daya pangan lokal. Umbi-umbian, sayuran, rempah-rempah, dan bahan pangan sumber protein menjadi bagian dari ragam sajian yang direkonstruksi. Pemanfaatan bahan-bahan tersebut membuka peluang untuk meningkatkan apresiasi terhadap pangan lokal sekaligus memperkuat kesadaran mengenai pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan pengetahuan tradisional.
Wisata Gastronomi sebagai Peluang Pemberdayaan Masyarakat
Hasil penelitian ini menjadi salah satu pijakan bagi pengembangan program wisata gastronomi di Desa Wisata Sidorejo. Melalui program tersebut, wisatawan berpeluang mengenal kuliner tradisional bukan hanya sebagai produk makanan, melainkan juga sebagai pengalaman budaya yang menghubungkan sejarah, pengetahuan lokal, tradisi, dan kehidupan masyarakat.
Pengembangan wisata gastronomi turut membuka peluang ekonomi bagi warga desa, khususnya perempuan dan pemuda yang dapat terlibat dalam pengolahan bahan pangan, produksi makanan, penyajian, pemanduan pengalaman wisata, serta pemasaran produk kuliner. Dengan demikian, rekonstruksi kuliner Pawukon berpotensi memberikan nilai tambah bagi sumber daya lokal sekaligus memperluas variasi produk wisata Desa Sidorejo. Keberhasilan pengembangan program tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan. Akademisi, pemerintah desa, pelaku usaha kuliner, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal dapat bersinergi dalam dokumentasi pengetahuan budaya, pengembangan produk wisata, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pemasaran destinasi. Kolaborasi multipihak dengan pendekatan pentahelix ini menjadi salah satu pendekatan untuk mendukung pengelolaan wisata gastronomi secara inklusif dan berkelanjutan.
Inisiatif di Desa Wisata Sidorejo menunjukkan bahwa warisan budaya dapat menjadi sumber inspirasi bagi inovasi pariwisata. Melalui proses dari naskah menjadi sajian, kuliner Pawukon memperoleh ruang untuk diperkenalkan kembali kepada generasi masa kini sekaligus dikembangkan sebagai bagian dari identitas dan daya tarik wisata Kulon Progo.
Lebih dari sekadar menghadirkan kembali resep tradisional, upaya ini memperlihatkan pentingnya menghubungkan pelestarian budaya dengan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi lokal. Keberlanjutan program akan ditentukan oleh kemampuan para pemangku kepentingan dalam menjaga keaslian pengetahuan budaya, memastikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, dan mengelola potensi pangan lokal secara bertanggung jawab.
Inisiatif rekonstruksi kuliner Pawukon dan pengembangan wisata gastronomi di Desa Wisata Sidorejo mendukung pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). SDG 2 (Tanpa Kelaparan) relevan dengan upaya meningkatkan apresiasi terhadap keragaman pangan lokal dan pemanfaatan sumber daya pangan secara berkelanjutan. SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) berkaitan dengan terbukanya peluang usaha dan pekerjaan melalui pengembangan wisata gastronomi serta keterlibatan perempuan dan pemuda. SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) tercermin dalam pelestarian warisan budaya dan pengetahuan tradisional sebagai bagian dari identitas masyarakat. Sementara itu, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) didukung melalui pemanfaatan bahan pangan lokal, penguatan apresiasi terhadap sumber daya setempat, dan pengembangan produk wisata yang memperhatikan keberlanjutan.
Penulis: Handayani Rahayuningsih