UNIVERSITAS GADJAH MADA
SEKOLAH VOKASI
DEPARTEMEN BAHASA, SENI DAN MANAJEMEN BUDAYA

UNIVERSITAS GADJAH MADA
SEKOLAH VOKASI
DBSMB

| | | | |

Dari Ruang Kuliah ke Dunia Industri: Mahasiswa Bahasa Jepang SV UGM Telusuri Praktik Penerjemahan di Era Digital

Yogyakarta (30/10) – Kegiatan magang menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam lingkungan kerja profesional. Melalui kegiatan ini, mahasiswa Program Studi Bahasa Jepang untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional (Jepang Kombispro), Departemen Bahasa Seni dan Manajemen Budaya (DBSMB) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM), tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga mengenal tantangan penerjemahan bahasa Jepang serta pemanfaatan teknologi digital di dunia industri.

Gambar 1. Sekolah Vokasi UGM sebagai Lokasi penelitian
Gambar 1. Sekolah Vokasi UGM sebagai Lokasi penelitian

Untuk memahami pengalaman tersebut, tim Program Studi Bahasa Jepang untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional yang diketuai oleh Wury Dwiwardani, melakukan penelitian mengenai pengalaman mahasiswa dalam menjalankan tugas penerjemahan tertulis selama magang. Penelitian ini dilakukan melalui wawancara mendalam dengan empat mahasiswa yang telah menjalani magang selama empat hingga lima bulan pada semester genap Tahun Akademik 2025/2026. Wawancara berlangsung pada Agustus hingga Oktober 2026.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa mahasiswa menghadapi beragam tugas penerjemahan dokumen perusahaan, mulai dari instruksi dan prosedur kerja, laporan harian, dokumen kepegawaian, hingga manual produk. Setiap dokumen memiliki karakteristik, tujuan, dan sasaran pembaca yang berbeda sehingga membutuhkan pemahaman konteks serta ketepatan penggunaan istilah. Pengalaman ini memberikan gambaran bahwa praktik penerjemahan di dunia industri memiliki kompleksitas tersendiri yang tidak selalu ditemukan dalam pembelajaran di ruang kelas. Penelitian ini juga menemukan bahwa teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), telah menjadi salah satu alat bantu dalam pekerjaan penerjemahan. Mahasiswa memanfaatkan teknologi tersebut untuk mempercepat proses kerja, memahami kosakata, serta mencari padanan istilah teknis yang belum dikuasai. Namun, penggunaan teknologi tetap membutuhkan pemeriksaan dan pertimbangan manusia untuk memastikan ketepatan hasil terjemahan sesuai konteks dan kebutuhan perusahaan.

Selain manfaatnya, mahasiswa juga menyadari adanya risiko dalam penggunaan teknologi penerjemahan, seperti kemungkinan kesalahan hasil terjemahan dan persoalan kerahasiaan informasi perusahaan. Oleh karena itu, keterampilan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, ketelitian, serta tanggung jawab profesional. Pengalaman mahasiswa selama magang tersebut menjadi masukan bagi program studi dalam mengevaluasi relevansi pembelajaran dengan kebutuhan dunia industri. Penguasaan bahasa Jepang perlu didukung oleh kemampuan memahami terminologi bidang kerja, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta memanfaatkan kecerdasan buatan secara tepat dan bertanggung jawab. Temuan ini sekaligus menegaskan pentingnya keterhubungan antara pembelajaran di perguruan tinggi dan praktik profesional sebagai bagian dari upaya mempersiapkan lulusan yang kompeten dan adaptif terhadap perubahan dunia kerja.

Similar Posts