Gambar 1. Foto bersama Narasumber,Dosen, dan Tendik Departemen Bahasa Seni dan Manajemen Budaya
Kegiatan yang diikuti oleh dosen tetap, dosen praktisi, dan tenaga kependidikan di lingkungan DBSMB SV UGM ini menghadirkan narasumber ahli di bidang kesehatan masyarakat dan psikologi, yaitu Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D dan Restu Tri Handoyo, S.Psi., Ph.D., Psikolog. Diskusi dipandu oleh moderator Handayani Rahayuningsih, S.S., M.Sc., yang mengarahkan jalannya sesi secara interaktif dan reflektif.
Dalam pemaparannya, Prof. Yayi yang juga merupakan ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) UGM, menekankan pentingnya pendekatan promotif dan preventif dalam kesehatan mental di lingkungan pendidikan tinggi. Dosen dan tenaga kependidikan tidak hanya berperan sebagai pendidik dan pengelola administrasi, tetapi juga sebagai support system terdekat bagi mahasiswa yang menghadapi tekanan akademik maupun persoalan personal. Literasi kesehatan mental, deteksi dini, serta komunikasi empatik menjadi kompetensi dasar yang perlu dimiliki oleh seluruh unsur kampus.
Sementara itu, pemateri kedua yang akrab dipanggil Mas Tyo memaparkan mengenai respon awal terhadap kasus kekerasan sosial, termasuk kekerasan berbasis gender, perundungan, maupun kekerasan psikologis. Beliau menegaskan bahwa respon awal yang tepat melalui validasi pengalaman korban, menjaga kerahasiaan, serta mengarahkan pada layanan profesional, dapat meminimalisasi dampak trauma jangka panjang. Workshop ini juga membahas alur pelaporan, prinsip psychological first aid, dan pentingnya koordinasi lintas unit dalam penanganan kasus.
Melalui kegiatan ini, DBSMB berkomitmen memperkuat kapasitas dosen dan tenaga kependidikan sebagai garda terdepan dalam menciptakan ekosistem kampus yang responsif, aman, dan berkeadilan. Penguatan ini tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu mahasiswa, tetapi juga pada kualitas proses pembelajaran dan budaya akademik secara keseluruhan.
Kegiatan workshop ini sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being) melalui penguatan literasi kesehatan mental dan peningkatan kapasitas dosen serta tenaga kependidikan dalam memberikan dukungan psikologis awal. Selain itu, kegiatan ini mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) dengan mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan suportif bagi seluruh mahasiswa. Upaya peningkatan pemahaman dan respon terhadap kekerasan sosial, termasuk kekerasan berbasis gender, juga berkontribusi pada SDG 5: Kesetaraan Gender (Gender Equality). Lebih lanjut, penguatan sistem respon kelembagaan terhadap kasus kekerasan sosial turut mendukung terwujudnya SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui pembangunan tata kelola kampus yang lebih responsif, adil, dan berorientasi pada perlindungan sivitas akademika.
Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan kebijakan dan praktik kelembagaan yang lebih sistematis dalam mendukung kesehatan mental dan perlindungan sivitas akademika di masa mendatang.