Kecerdasan Buatan dalam Praktik Humas: Riset Dosen Sekolah Vokasi UGM Ungkap AI Percepat Kinerja, Sentuhan Manusia Tetap Tak Tergantikan
Gambar 1. AI mulai diintegrasikan dalam proses penyusunan strategi komunikasi hingga produksi konten
Yogyakarta (1/7) – Pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai sektor, termasuk dunia Hubungan Masyarakat (Humas). Teknologi ini tidak lagi sekadar menjadi inovasi pendukung, tetapi mulai diintegrasikan dalam proses penyusunan strategi komunikasi hingga produksi konten. Namun demikian, sebuah penelitian terbaru dari akademisi Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan bahwa kecanggihan AI belum mampu menggantikan peran manusia dalam menjaga kualitas, kreativitas, dan identitas merek.
Penelitian tersebut dilakukan oleh tim akademisi Program Studi Bahasa Inggris, Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya (DBSMB), Sekolah Vokasi UGM, yang terdiri atas Nabilla Kusuma Vardhani, M.A. dan Andri Handayani, M.A. sebagai dosen peneliti, bersama Bendina Morezky sebagai asisten peneliti. Melalui pendekatan kualitatif berupa wawancara mendalam dengan praktisi dari berbagai agensi humas di Indonesia, penelitian ini mengkaji bagaimana AI dimanfaatkan dalam praktik komunikasi profesional.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI telah digunakan pada tiga tahapan utama produksi konten humas, yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Pada tahap perencanaan, AI membantu praktisi melakukan brainstorming, menyusun ide, dan mengembangkan kerangka konten. Saat produksi, AI dimanfaatkan untuk menghasilkan draf awal berbagai jenis naskah komunikasi, sementara pada tahap pasca-produksi digunakan untuk penyuntingan, pemeriksaan tata bahasa, hingga penyempurnaan gaya bahasa.
Pemanfaatan AI terbukti mampu meningkatkan efisiensi kerja dan mempercepat proses penyusunan materi komunikasi. Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa sebagian besar perusahaan maupun agensi belum memiliki regulasi yang ketat terkait penggunaan AI. Sebaliknya, banyak organisasi justru mendorong karyawannya memanfaatkan teknologi tersebut sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas dan efektivitas kerja.
Meski demikian, penelitian ini mengungkap tantangan penting dalam implementasi AI di bidang humas. Konten yang dihasilkan AI seringkali belum mampu memahami konteks komunikasi secara utuh maupun karakteristik khas setiap merek dan organisasi.
“Salah satu tantangan utamanya adalah hasil AI sering kali tidak sepenuhnya selaras dengan konteks spesifik atau identitas merek klien,” ungkap tim peneliti.
Temuan tersebut menegaskan bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai alat pendukung (supporting tool), bukan pengganti peran praktisi humas. Kemampuan manusia dalam memahami kebutuhan klien, membaca situasi komunikasi, membangun hubungan dengan audiens, serta menghasilkan narasi yang autentik masih menjadi faktor utama dalam menciptakan komunikasi yang efektif dan berdaya pengaruh.
Menurut tim peneliti, keberhasilan integrasi AI dalam dunia humas bergantung pada kemampuan praktisi untuk memadukan kecanggihan teknologi dengan kreativitas, empati, serta pemikiran kritis. Dengan demikian, AI dapat menjadi mitra strategis yang meningkatkan produktivitas tanpa menghilangkan nilai-nilai komunikasi yang berpusat pada manusia.
Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu komunikasi, khususnya dalam memahami transformasi profesi humas di era digital. Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi akademisi, praktisi, maupun organisasi dalam merumuskan strategi pemanfaatan AI yang etis, bertanggung jawab, dan tetap mengedepankan kualitas komunikasi.
Artikel ilmiah lengkap mengenai penelitian ini dapat diakses melalui International Journal of Digital Public Relations pada tautan berikut:
https://journals.telkomuniversity.ac.id/IJDPR/article/view/10069.
Penelitian ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan riset yang memperkaya kompetensi digital dan literasi kecerdasan buatan, SDG 9 (Industri, Inovasi, Infrastruktur) dengan mendorong inovasi pemanfaatan teknologi AI dalam praktik komunikasi profesional, serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh ) melalui penguatan praktik komunikasi publik yang lebih transparan, etis, dan akuntabel di tengah transformasi digital. Dengan menghasilkan penelitian yang relevan terhadap perkembangan industri, Sekolah Vokasi UGM terus memperkuat perannya sebagai institusi pendidikan vokasi yang menghasilkan solusi berbasis riset bagi kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.