UNIVERSITAS GADJAH MADA
SEKOLAH VOKASI
DEPARTEMEN BAHASA, SENI DAN MANAJEMEN BUDAYA

UNIVERSITAS GADJAH MADA
SEKOLAH VOKASI
DBSMB

| | | | |

Merawat Identitas Lokal melalui Wayang Ikan: Strategi Digital Storytelling Desa Wisata Kajii

Bantul (28/10) – Pelestarian identitas lokal dapat dilakukan melalui pendekatan kreatif yang menghubungkan pengetahuan masyarakat, seni tradisional, dan teknologi digital. Gagasan tersebut menjadi dasar penelitian perancangan konten digital storytelling wayang ikan untuk mendukung penguatan branding Desa Wisata Kajii, Kadisoro, Bantul, Yogyakarta yang dilakukan oleh Arina Pramusita dan Yohana Ika Harnita Sari, dosen Departemen Bahasa Seni dan Manajemen Budaya (DBSMB) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM).

Gambar 1. Tokoh wayang ikan yang merupakan ikan hias khas Desa Wisata Kajii
Gambar 1. Tokoh wayang ikan yang merupakan ikan hias khas Desa Wisata Kajii

Desa Wisata Kajii memiliki potensi wisata edukasi yang berakar pada kegiatan budidaya ikan hias yang telah berkembang di masyarakat sejak 1994. Potensi tersebut menjadi inspirasi pengembangan wayang ikan, yakni tokoh-tokoh cerita yang merepresentasikan berbagai jenis ikan hias melalui karakter, konflik, dan pesan moral. Inovasi ini menghubungkan potensi perikanan lokal dengan pengembangan narasi kreatif sebagai identitas khas destinasi wisata.

Salah satu cerita yang diangkat dalam penelitian ini adalah “Bersenang-senang di Pelataran Kayangan Samudramaya”. Cerita tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat bawah laut, konflik akibat kesewenang-wenangan, upaya melindungi sesama, serta pemulihan kedamaian melalui tindakan bersama. Narasi ini menjadi sarana untuk menyampaikan nilai kebersamaan, kepedulian, dan kehidupan harmonis melalui cerita yang dapat dikemas secara menarik bagi masyarakat dan audiens digital.

Penelitian ini merancang pemanfaatan Instagram sebagai media penyampaian cerita wayang ikan. Format Reels digunakan untuk memperkenalkan tokoh dan alur cerita, sedangkan carousel dimanfaatkan untuk menampilkan karakter setiap tokoh. Konten edukasi juga dirancang untuk menghubungkan cerita dengan pengetahuan tentang ikan hias serta pengalaman wisata di Desa Wisata Kajii. Melalui pendekatan tersebut, media sosial tidak hanya dimanfaatkan sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai ruang untuk memperkenalkan pengetahuan lokal dalam format yang lebih mudah diakses. Perpaduan cerita, karakter visual, dan informasi edukatif diharapkan dapat memperkuat hubungan antara potensi budidaya ikan hias, narasi budaya, dan pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.

Inisiatif ini memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, khususnya target 11.4 tentang pelindungan warisan budaya dan alam. Pengembangan wayang ikan menjadi bentuk interpretasi kreatif atas pengetahuan lokal yang berpotensi diperkenalkan kepada generasi muda dan calon wisatawan melalui media digital. Upaya pelestarian tidak berhenti pada dokumentasi, tetapi juga memerlukan keterlibatan masyarakat dalam menjaga, mengembangkan, dan menyampaikan cerita yang merepresentasikan identitas setempat.

Penelitian ini juga relevan dengan SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan, terutama dalam konteks perluasan keterwakilan masyarakat lokal dalam komunikasi dan promosi destinasi. Pengetahuan tokoh lokal, pengalaman pembudidaya ikan, serta kreativitas warga dapat menjadi bagian dari narasi yang disampaikan kepada publik. Dengan pendekatan partisipatif, masyarakat berpeluang berperan bukan hanya sebagai objek promosi, melainkan juga sebagai sumber pengetahuan dan pembentuk identitas destinasi. Selain itu, pengembangan wisata edukatif dan kreatif memiliki potensi keterkaitan dengan SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui penyediaan ruang rekreasi, pembelajaran, dan interaksi sosial. Namun, hubungan tersebut masih bersifat potensial karena penelitian ini belum mengukur dampak langsung pengembangan wayang ikan terhadap kesehatan maupun kesejahteraan masyarakat.

Gambar 2. Peneliti dan tokoh Desa Wisata Kajii memperkenalkan tokoh-tokoh wayang ikan
Gambar 2. Peneliti dan tokoh Desa Wisata Kajii memperkenalkan tokoh-tokoh wayang ikan

Melalui pendekatan digital storytelling, potensi lokal Desa Wisata Kajii diharapkan dapat dikomunikasikan secara lebih terstruktur sekaligus dihubungkan dengan pengalaman wisata yang nyata. Strategi ini berpotensi membantu pengelola membangun identitas destinasi yang khas, memperkuat keterhubungan antara cerita dan atraksi wisata, serta mengembangkan komunikasi pariwisata yang berorientasi pada keberlanjutan.

Penelitian ini masih berada pada tahap perancangan konten. Tahap berikutnya perlu mencakup validasi narasi bersama masyarakat dan pengelola, pengujian pemahaman audiens, serta evaluasi penerimaan terhadap karakter dan pesan moral wayang ikan. Langkah tersebut penting untuk memastikan bahwa inovasi digital tetap berpijak pada nilai lokal dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari pelestarian budaya serta penguatan identitas Desa Wisata Kajii.

Penulis : Arina Pramusita

Similar Posts