Gambar 1. Foto bersama Dosen dan Mahasiswa peserta kegiatan
Yogyakarta, 2 September 2026 — Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya (DBSMB), Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (SV UGM) kembali menyelenggarakan Indonesian Cultural Training Program sebagai bagian dari upaya memperkuat pertukaran budaya dan hubungan akademik antara Indonesia dan Jepang. Program tahun ini sekaligus menjadi momentum penyambutan tujuh mahasiswa dari Nagasaki University of Foreign Studies (NUFS), Jepang, yang akan mengikuti rangkaian kegiatan pembelajaran dan pengenalan budaya Indonesia.
Kegiatan diawali dengan Opening Ceremony yang berlangsung pada Rabu (2/9) di Gedung TILC Sekolah Vokasi UGM. Acara tersebut diisi dengan sambutan dari perwakilan DBSMB SV UGM, Sekolah Vokasi UGM, serta NUFS, dilanjutkan dengan sesi perkenalan mahasiswa NUFS dan mahasiswa UGM.
Dalam pembukaan acara, disampaikan bahwa program ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar budaya Indonesia secara langsung sekaligus memperkuat hubungan Indonesia dan Jepang melalui interaksi dan pertukaran budaya.
Sekretaris Departemen DBSMB SV UGM, Erlin Estiana Yuanti, S.S., M.A., menyampaikan sambutan hangat kepada para mahasiswa dan dosen NUFS yang hadir di Sekolah Vokasi UGM. Menurutnya, salah satu cara terbaik untuk memahami budaya asing adalah melalui interaksi langsung dengan masyarakat yang memiliki budaya tersebut.
“Cara terbaik untuk mempelajari suatu budaya adalah dengan berinteraksi langsung dengan orang-orang dari budaya tersebut,” ungkap Erlin.
Melalui program ini, mahasiswa NUFS diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai budaya Indonesia secara akademis, tetapi juga dapat memahami Indonesia melalui pengalaman langsung dan interaksi dengan masyarakat. Di sisi lain, mahasiswa UGM juga memperoleh kesempatan untuk mengenal budaya Jepang melalui interaksi dengan mahasiswa NUFS.
Hal senada disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Kerja Sama dan Alumni Sekolah Vokasi UGM, Dr. Endang Soelistiyowati, M.Pd. Ia menyampaikan apresiasi karena program yang telah dirancang sejak beberapa tahun sebelumnya kini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun dengan antusiasme yang tinggi. Dalam sambutannya, disampaikan juga bahwa Yogyakarta sebagai salah satu kota penting dalam konteks budaya Indonesia. Menurutnya, Yogyakarta memiliki kekayaan budaya dan beragam destinasi yang menjadi bagian penting dari pengalaman mahasiswa asing selama berada di Indonesia.

Ia berharap mahasiswa NUFS dapat menciptakan kenangan indah selama berada di Yogyakarta, membangun persahabatan baru dengan mahasiswa UGM dan masyarakat Indonesia, serta memiliki keinginan untuk kembali mengunjungi Indonesia di masa mendatang.
“Semoga setelah mengikuti program ini, teman-teman NUFS tidak hanya mengenal Yogyakarta, tetapi juga tertarik untuk kembali ke Indonesia dan mengenal keberagaman budaya di berbagai daerah lainnya,” tutur Endang.
Sementara itu, Kotorii Shinsuke, dosen sekaligus ketua program dari NUFS, menyampaikan apresiasi kepada DBSMB SV UGM dan Sekolah Vokasi UGM atas sambutan serta kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa NUFS untuk mengikuti Indonesian Cultural Training Program.
Sebagai akademisi yang memiliki perhatian pada bidang antropologi budaya Asia, khususnya Asia Tenggara, Kotorii menilai program ini menjadi kesempatan penting untuk memperdalam persahabatan sekaligus pemahaman antara masyarakat Indonesia dan Jepang melalui pembelajaran budaya secara langsung. Ia juga mengungkapkan bahwa mahasiswa NUFS yang mengikuti program pada tahun sebelumnya kembali ke Jepang dengan wawasan dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai budaya Indonesia dan masyarakatnya. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi keberlanjutan partisipasi mahasiswa NUFS dalam program tahun ini.
Pada pelaksanaan tahun 2026, sebanyak tujuh mahasiswa NUFS mengikuti program pertukaran budaya ini. Para peserta datang dengan beragam ketertarikan terhadap Indonesia, mulai dari agama, budaya, hingga bahasa. Keberagaman minat tersebut diharapkan dapat memperkaya proses pembelajaran dan interaksi selama program berlangsung. Kegiatan Opening Ceremony Indonesian Cultural Training Program kemudian ditutup dengan sesi perkenalan antara mahasiswa NUFS dan mahasiswa UGM. Pertemuan ini menjadi langkah awal bagi para peserta untuk membangun komunikasi, jejaring, dan persahabatan yang akan berkembang melalui berbagai kegiatan selama program berlangsung.
Melalui Indonesian Cultural Training Program, DBSMB SV UGM terus mendorong terciptanya ruang pembelajaran lintas budaya yang memungkinkan mahasiswa Indonesia dan Jepang untuk belajar dari satu sama lain, memahami keberagaman, serta membangun persahabatan yang melampaui batas negara. Program ini sekaligus memperkuat peran pendidikan tinggi sebagai ruang strategis bagi pengembangan pemahaman antarbudaya dan hubungan internasional. Pelaksanaan Indonesian Cultural Training Program turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyediaan pengalaman pembelajaran lintas budaya yang memperluas wawasan, kompetensi global, dan pemahaman mahasiswa terhadap keberagaman budaya. Pembelajaran yang berlangsung melalui interaksi langsung antara mahasiswa Indonesia dan Jepang menjadi bagian dari proses pendidikan yang mendorong keterbukaan, toleransi, dan kemampuan berkomunikasi dalam lingkungan multikultural.
Selain itu, program ini berkontribusi terhadap SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan kerja sama antara DBSMB Sekolah Vokasi UGM dan Nagasaki University of Foreign Studies (NUFS). Kemitraan akademik tersebut menjadi wadah bagi kedua institusi untuk membangun jejaring internasional, mendorong pertukaran pengetahuan dan budaya, serta menciptakan kolaborasi yang memberikan manfaat bagi mahasiswa dan institusi. Dengan demikian, Indonesian Cultural Training Program tidak hanya menjadi kegiatan pertukaran budaya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kemitraan pendidikan tinggi internasional yang berkelanjutan.