UNIVERSITAS GADJAH MADA
SEKOLAH VOKASI
DEPARTEMEN BAHASA, SENI DAN MANAJEMEN BUDAYA

UNIVERSITAS GADJAH MADA
SEKOLAH VOKASI
DBSMB

| | | | | | |

Riset SV UGM Soroti Pentingnya Pelestarian Identitas Pantai Glagah di Tengah Pembangunan Kawasan Bandara YIA

YOGYAKARTA (29/10) – Pembangunan kawasan pariwisata tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dan penyediaan fasilitas. Pelestarian identitas, sejarah, serta karakter lingkungan yang membentuk keunikan suatu destinasi juga perlu menjadi perhatian. Hal tersebut menjadi salah satu temuan penelitian mengenai identitas ruang wisata Pantai Glagah, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian berjudul “The Genius Loci of Glagah Beach: An Examination of Tourism Space and Place Following the Establishment of Yogyakarta International Airport” dilakukan oleh Carlos Iban, S.S., M.Sc., dosen Program Studi Sarjana Terapan Bisnis Perjalanan Wisata (BPW), Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya (DBSMB), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM), bersama Vincentius Tangguh Atyanto Nugroho, Ari Mukti Wardoyo Adi, dan Yusuf Hermawan. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam Jurnal Pariwisata Terapan Universitas Gadjah Mada pada 2025.

Gambar 1. Lokasi Penelitian Kawasan Pantai Glagah

Penelitian ini berangkat dari perubahan kawasan pesisir Kulon Progo setelah pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA). Kehadiran bandara internasional tersebut turut mendorong transformasi fungsi ruang dan aktivitas ekonomi di kawasan sekitarnya, termasuk Pantai Glagah yang memiliki kekhasan lanskap alam, aktivitas masyarakat, dan warisan budaya. Dengan menggunakan konsep genius loci, yaitu karakter dan identitas khas yang membentuk makna suatu tempat, penelitian ini mengkaji bagaimana perubahan pembangunan memengaruhi identitas serta pengalaman wisata di Pantai Glagah.

Melalui pendekatan kualitatif yang menggabungkan observasi sistematis dan wawancara mendalam, tim peneliti menemukan bahwa Pantai Glagah memiliki karakter ruang yang beragam. Setiap bagian kawasan menunjukkan identitas, kualitas lingkungan, dan pengalaman wisata yang berbeda. Kawasan laguna, misalnya, memiliki karakter ruang rekreasi yang relatif tenang dan nyaman sehingga menarik bagi keluarga maupun pengunjung yang ingin menikmati suasana santai. Sebaliknya, kawasan garis pantai masih menghadapi sejumlah persoalan, seperti penurunan kualitas lingkungan, permasalahan sampah, dan keterbatasan pemeliharaan infrastruktur wisata.

Penelitian ini juga mengidentifikasi lapisan identitas budaya yang berkaitan dengan sejarah dan warisan Pakualaman. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa Pantai Glagah tidak hanya memiliki nilai ekonomi dan rekreasi, tetapi juga mengandung nilai historis, simbolis, dan spiritual bagi masyarakat. Keberadaan laguna dan struktur pemecah gelombang (breakwater) turut memperkuat karakter fisik Pantai Glagah yang membedakannya dari destinasi pantai lainnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari sisi aktivitas wisata, penelitian menunjukkan adanya perubahan pola kunjungan di kawasan laguna setelah pembangunan YIA. Berdasarkan data kunjungan yang dianalisis, jumlah pengunjung pada hari kerja pada 2024 diperkirakan meningkat sekitar 40–50 persen dibandingkan dengan kondisi sebelum pembangunan bandara. Peningkatan tersebut berkaitan dengan munculnya segmen pengunjung baru, termasuk pengguna dan pekerja yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas bandara. Namun, peningkatan aktivitas di kawasan laguna tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh bagian Pantai Glagah memperoleh manfaat yang sama. Perbedaan kondisi antara kawasan laguna dan garis pantai justru memperlihatkan perlunya strategi pengelolaan yang mempertimbangkan karakter dan kebutuhan masing-masing ruang.

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menekankan bahwa pembangunan destinasi yang hanya berorientasi pada perubahan fisik dan menerapkan pendekatan seragam berisiko mengabaikan kekhasan suatu kawasan. Tim peneliti merekomendasikan strategi pengelolaan ganda (dual management strategy) yang membedakan kebutuhan kawasan laguna dan kawasan garis pantai. Pada kawasan laguna, pengelolaan perlu diarahkan untuk mempertahankan kualitas lingkungan, suasana rekreasi, serta karakter ruang yang telah berkembang melalui aktivitas masyarakat dan pengunjung. Sementara itu, kawasan garis pantai memerlukan perhatian lebih besar terhadap rehabilitasi lingkungan, penanganan sampah, pemeliharaan infrastruktur, dan peningkatan kualitas pengalaman wisata.

Selain aspek lingkungan dan fasilitas, pelestarian situs serta nilai budaya yang berkaitan dengan warisan Pakualaman juga perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan destinasi. Pengembangan fasilitas maupun aktivitas wisata sebaiknya tidak menghilangkan makna historis dan spiritual yang telah melekat pada kawasan tersebut. Pendekatan ini sejalan dengan konsep place-based tourism development, yakni pembangunan pariwisata yang bertumpu pada identitas, kebutuhan, dan karakter khas suatu tempat. Dengan demikian, arah pengembangan destinasi tidak semata-mata mengikuti model pembangunan yang bersifat umum, tetapi disesuaikan dengan potensi dan nilai lokal yang dimiliki.

Temuan penelitian ini memiliki relevansi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan). Dalam konteks Pantai Glagah, pelestarian tidak hanya mencakup bangunan atau peninggalan sejarah, tetapi juga lanskap pesisir, identitas ruang, nilai budaya, serta hubungan masyarakat dengan lingkungan sekitarnya. Penelitian ini juga mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan pariwisata berkelanjutan yang menghargai budaya dan produk lokal. Selanjutnya, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) tercermin melalui pentingnya pengelolaan aktivitas wisata dan pemantauan dampaknya terhadap lingkungan secara berkelanjutan. Sementara itu, rekomendasi perbaikan pengelolaan sampah dan perlindungan lingkungan pesisir memiliki keterkaitan dengan SDG 14 (Ekosistem Lautan), terutama dalam upaya mengurangi pencemaran laut yang bersumber dari aktivitas di daratan.

Melalui perspektif genius loci, penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan destinasi tidak cukup diwujudkan melalui penambahan fasilitas atau peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Lebih dari itu, pembangunan perlu memastikan bahwa identitas tempat, kualitas lingkungan, dan nilai budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tetap terpelihara. Penelitian ini menjadi salah satu kontribusi Sekolah Vokasi UGM dalam pengembangan pengetahuan terapan di bidang pariwisata, khususnya untuk mendorong pengelolaan destinasi yang lebih peka terhadap karakter lokal dan selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan.

 

Similar Posts