Wayang Ikan: Inovasi Digital Storytelling untuk Memperkuat Ekonomi Kreatif Desa Wisata Kajii
BANTUL (27/10) – Potensi budidaya ikan hias di Desa Wisata Kajii, Kadisoro, Bantul, dikembangkan melalui inovasi digital storytelling yang memadukan kreativitas, narasi lokal, dan teknologi digital. Penelitian yang dilakukan oleh Arina Pramusita dan Yohana Ika Harnita Sari, dosen Departemen Bahasa Seni dan Manajemen Budaya (DBSMB) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM), mengangkat konsep wayang ikan sebagai alternatif penguatan identitas dan branding desa wisata melalui konten digital yang menarik dan edukatif.

Wayang ikan merupakan inovasi kreatif yang menginterpretasikan berbagai jenis ikan hias menjadi tokoh cerita dengan karakter dan pesan moral. Ikan Arwana, Oscar, Koki, Beta, Moli, Koi, dan Guppy dikembangkan sebagai tokoh yang menghubungkan potensi budidaya ikan hias dengan seni, cerita, serta pengalaman wisata edukatif. Pendekatan ini menawarkan cara baru untuk memperkenalkan kekhasan lokal kepada masyarakat luas sekaligus memperkaya daya tarik Desa Wisata Kajii.
Dalam penelitian ini, media sosial Instagram dirancang sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan narasi wayang ikan. Format Reels dapat digunakan untuk memperkenalkan tokoh dan alur cerita, sedangkan carousel dimanfaatkan untuk menjelaskan karakter masing-masing tokoh. Konten edukasi juga diarahkan untuk menghubungkan cerita dengan aktivitas budidaya ikan hias yang dijalankan masyarakat. Melalui strategi tersebut, potensi lokal diharapkan dapat dikomunikasikan secara lebih menarik, konsisten, dan mudah dikenali oleh calon wisatawan.
Inovasi wayang ikan memiliki relevansi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 8, yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Pengembangan cerita berbasis potensi lokal dapat membuka peluang diversifikasi produk dan pengalaman wisata, memperkuat promosi produk masyarakat, serta mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi kreatif di tingkat desa. Dengan pengembangan yang tepat, wayang ikan berpotensi menjadi bagian dari upaya memperluas nilai ekonomi budidaya ikan hias. Meski demikian, dampaknya terhadap pendapatan dan penciptaan lapangan kerja perlu ditelaah melalui implementasi dan evaluasi lebih lanjut.
Penelitian ini juga sejalan dengan SDGs 9, yaitu industri, inovasi, dan infrastruktur, melalui pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung inovasi komunikasi dan pemasaran pariwisata. Penggunaan media sosial menjadi salah satu alternatif promosi yang dapat diterapkan oleh pengelola desa wisata untuk memperkenalkan keunikan destinasi kepada khalayak yang lebih luas. Perpaduan narasi kreatif dan platform digital memungkinkan potensi budidaya ikan hias dikemas menjadi konten yang informatif sekaligus memiliki daya tarik visual. Dari sisi pemberdayaan masyarakat, inisiatif ini turut berkaitan dengan SDGs 10, yaitu berkurangnya kesenjangan. Pengembangan narasi yang berangkat dari potensi lokal memberikan ruang bagi kreativitas, pengetahuan, dan pengalaman masyarakat untuk menjadi bagian dari identitas pariwisata desa. Pelibatan warga, pembudidaya ikan hias, dan pengelola desa wisata menjadi penting agar cerita yang dikembangkan merepresentasikan karakter serta nilai yang tumbuh di masyarakat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi objek promosi, tetapi juga berpeluang berperan dalam proses pengembangan dan pengelolaan identitas kreatif destinasi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa inovasi digital dalam pengembangan pariwisata tidak selalu harus dimulai dengan teknologi yang kompleks. Potensi yang telah dimiliki masyarakat dapat dikembangkan melalui pendekatan kreatif yang menghubungkan cerita, budaya, dan aktivitas ekonomi lokal. Dalam konteks Desa Wisata Kajii, wayang ikan menawarkan kemungkinan untuk membangun diferensiasi destinasi sekaligus memperkenalkan budidaya ikan hias melalui pendekatan yang lebih komunikatif dan edukatif. Pengembangan wayang ikan ini memerlukan validasi konten bersama masyarakat dan pengelola desa wisata, serta pengujian respons audiens terhadap cerita yang disampaikan. Evaluasi dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman audiens, pengenalan terhadap identitas desa, dan peluang pengembangan pengalaman wisata berbasis edukasi. Melalui proses tersebut, wayang ikan diharapkan dapat berkembang sebagai identitas kreatif Desa Wisata Kajii yang menghubungkan potensi lokal, inovasi digital, dan penguatan ekonomi kreatif masyarakat secara berkelanjutan.
Penulis : Arina Pramusita