
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 20/10/2025 — Tradisi nomikai atau pertemuan minum bersama merupakan bagian penting dari budaya komunikasi di Jepang. Dalam konteks sosial dan profesional, nomikai berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan antar rekan kerja maupun atasan. Namun, bagi pekerja migran Muslim asal Indonesia—terutama perempuan—tradisi ini sering kali menimbulkan dilema kultural dan religius.

Sebuah penelitian terbaru mengungkap bagaimana perempuan Muslim Indonesia di Jepang menegosiasikan identitas keagamaannya di tengah tuntutan budaya yang berbeda. Melalui pendekatan naratif dengan desain studi kasus tunggal, penelitian ini menyoroti pengalaman hidup seorang perempuan Muslim Indonesia yang bekerja dan menetap di Jepang, serta bagaimana ia beradaptasi dengan budaya nomikai tanpa kehilangan nilai-nilai Islam yang diyakininya.
Peneliti melakukan wawancara mendalam untuk menggali makna partisipasi subjek dalam kegiatan nomikai dan bagaimana proses tersebut membentuk identitas serta cara pandangnya terhadap perbedaan budaya. Analisis dilakukan dengan kerangka interpretatif untuk menemukan esensi pengalaman dan proses pembentukan makna yang dialami.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nomikai bukan sekadar ajang minum-minum, tetapi juga ruang kompleks tempat terjadi negosiasi identitas dan pertukaran nilai. Subjek penelitian menemukan cara untuk tetap terlibat secara sosial tanpa melanggar keyakinan agamanya, misalnya dengan hadir untuk membangun relasi, namun tetap menegaskan batasan sesuai nilai Islam.
Temuan ini sejalan dengan berbagai kajian sebelumnya mengenai adaptasi lintas budaya, yang menegaskan bahwa negosiasi identitas tidak selalu berujung pada kehilangan jati diri. Sebaliknya, proses tersebut dapat memperkuat ketahanan pribadi (resilience), afirmasi nilai-nilai diri, dan kemampuan berinteraksi secara inklusif dengan budaya lain.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterlibatan dalam budaya lokal tidak harus bertentangan dengan identitas religius. Dalam kasus ini, nomikai justru menjadi ruang naratif bagi afirmasi diri dan pemberdayaan lintas budaya. Kisah ini menggambarkan bagaimana seorang perempuan Muslim dapat membangun jembatan antara iman dan budaya, serta menemukan makna baru dalam perjalanan hidupnya di negeri orang.
Penulis: Lufi Wahidati