


Lanskap humas (hubungan masyarakat) terus berubah. Kini, kecerdasan buatan (AI) menjadi kekuatan baru, terutama dalam menghasilkan ide dan brainstorming. Di Indonesia, para profesional humas perlu kolaborasi efektif dan pemikiran inovatif lebih dari sebelumnya. Kini, AI kian diakui sebagai mitra penting dalam proses brainstorming, membantu tim merumuskan ide dan mempertajam strategi. Klaim ini merupakan hasil dari wawancara atas penelitian yang dilakukan oleh dosen Sekolah Vokasi UGM, Nabilla Kusuma Vardhani dan Andri Handayani.
Tim humas sering kesulitan mengelola banyak proyek sekaligus. Situasi ini menghambat tim berkumpul dan berdiskusi komprehensif. Namun demikian, kini para profesional humas menemukan cara baru meningkatkan sesi brainstorming mereka, menghasilkan ide dengan pendekatan yang lebih efisien dan produktif melalui AI.
AI menjadi katalis kreativitas yang memberi tim humas banyak informasi dan referensi untuk memicu ide baru. AI dapat menganalisis data dalam jumlah besar, mengidentifikasi tren, preferensi konsumen, dan topik baru yang mungkin luput dari tim manusia. Kemampuan ini membantu profesional humas memanfaatkan berbagai wawasan, menghasilkan strategi komunikasi yang lebih terinformasi dan inovatif.
Selain itu, AI berperan besar dalam mengkritisi ide selama brainstorming. AI mengevaluasi kelayakan dan dampak potensial berbagai konsep, membantu tim menyempurnakan proposal dan fokus pada arah yang paling menjanjikan. Dukungan analitis ini sangat berharga, terutama saat taruhan tinggi dan komunikasi efektif menjadi kunci.
Namun, penting untuk mengakui batasan AI. AI memberikan wawasan dan saran berharga, tetapi sering kekurangan pemahaman nuansa dan kecerdasan emosional yang dimiliki manusia. Ide dari AI kadang terasa kaku atau tidak kontekstual, sehingga sulit membuat konten yang beresonansi dengan identitas klien dan nilai merek. Proses kreatif adalah inti manusia, bergantung pada intuisi, empati, dan pengalaman pribadi. AI membantu membuat ide, tetapi tidak bisa meniru kedalaman pemahaman dari interaksi dan kolaborasi manusia. Ini krusial dalam humas, di mana kemampuan terhubung dengan audiens secara emosional adalah penentu keberhasilan.
Oleh karenanya, para profesional humas di Indonesia harus menemukan keseimbangan saat mengadopsi AI. Saat memanfaatkan AI, mereka harus tetap memprioritaskan pentingnya kreativitas manusia dan kecerdasan emosional. Keseimbangan ini akan menghasilkan strategi komunikasi optimal yang beresonansi dengan audiens.
Penulis: Nabilla Kusuma Vardhani