Yogyakarta, 29 Oktober 2025 — Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan melalui penelitian inovatif yang menyoroti pentingnya penguasaan bahasa Inggris bagi pegawai universitas. Penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan bahasa Inggris tidak hanya meningkatkan kemampuan komunikasi, tetapi juga berdampak langsung pada pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8) di sektor pendidikan tinggi.
Penelitian berjudul “Overcoming Foreign Language Anxiety to Enhance Public Speaking Confidence” karya Supriyono dari Sekolah Vokasi UGM mengungkap bahwa peningkatan kemampuan berbicara di depan umum dalam bahasa Inggris dapat memperluas peluang karier, memperkuat kinerja organisasi, dan meningkatkan reputasi institusi dalam skala internasional.
Bahasa Inggris Sebagai Keterampilan Ekonomi Bernilai Tinggi
Dalam era globalisasi pendidikan, staf universitas tidak hanya berperan administratif, tetapi juga menjadi representasi lembaga dalam berbagai forum internasional. Sayangnya, banyak staf menghadapi hambatan berupa kecemasan berbicara (Foreign Language Anxiety/FLA) ketika harus menggunakan bahasa Inggris dalam situasi formal.
“FLA dapat menghambat potensi profesional seseorang. Melalui pelatihan bahasa yang tepat, staf dapat mengubah rasa cemas menjadi rasa percaya diri, dan ini langsung berdampak pada produktivitas kerja,” ujar Supriyono.
Sebanyak 34 pegawai dari berbagai fakultas dan direktorat di UGM mengikuti pelatihan intensif mendengarkan dan berbicara dalam bahasa Inggris. Setelah pelatihan, lebih dari 80% peserta menyatakan peningkatan signifikan dalam kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi publik. Mereka juga menjadi lebih siap menghadapi acara internasional, baik sebagai pembawa acara, moderator, maupun narasumber.
Kontribusi terhadap SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
Hasil penelitian ini mendukung SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) yang menekankan pentingnya penciptaan pekerjaan produktif dan peningkatan kompetensi tenaga kerja. Dalam konteks universitas, peningkatan kemampuan bahasa Inggris memperkuat daya saing global pegawai universitas Indonesia, sekaligus membuka peluang bagi kolaborasi internasional dan pengembangan karier.
“Staf dengan kemampuan komunikasi internasional dapat menjembatani kerja sama antaruniversitas, memfasilitasi pertukaran mahasiswa asing, dan memperkuat reputasi lembaga. Semua ini berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi berbasis pendidikan,” jelas Supriyono.
Selain itu, peningkatan kapasitas staf juga mendukung efisiensi manajemen acara internasional di universitas, mempercepat layanan akademik, dan meningkatkan kualitas interaksi lintas budaya—semuanya berdampak pada produktivitas dan profesionalisme institusi.
Meningkatkan Kompetensi dan Nilai Profesional
Penelitian ini menemukan bahwa pelatihan bahasa Inggris tidak hanya menurunkan tingkat kecemasan, tetapi juga meningkatkan kesadaran diri profesional. Banyak peserta mengaku lebih siap tampil di depan publik setelah melalui sesi latihan intensif.
“Dulu saya takut salah ucap. Tapi setelah latihan, saya merasa lebih tenang dan percaya diri ketika berbicara dengan dosen atau tamu asing,” ungkap salah satu peserta.
Pelatihan ini juga memberikan efek domino: meningkatnya keberanian untuk mengambil tanggung jawab baru, kemampuan berkomunikasi dengan mitra global, serta kesiapan menghadapi tantangan kerja di era digital. Semua aspek ini menjadi indikator peningkatan employability yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja modern.
Strategi Pengembangan SDM yang Berkelanjutan
Penelitian ini merekomendasikan agar universitas dan lembaga pendidikan tinggi:
- Menjadikan pelatihan bahasa Inggris sebagai bagian dari pengembangan profesional berkelanjutan (continuous professional development);
- Memberikan dukungan institusional berupa jadwal belajar fleksibel, mentor bahasa, dan lingkungan belajar yang suportif;
- Mengintegrasikan sertifikasi komunikasi internasional agar staf memperoleh pengakuan profesional formal yang memperkuat posisi mereka di dunia kerja.
Menurut Supriyono, “Penguasaan bahasa Inggris bukan sekadar keterampilan, tetapi investasi institusional untuk menciptakan sumber daya manusia yang kompeten dan kompetitif di tingkat global.”
Dampak Jangka Panjang: Membangun Human Capital Unggul
Dengan meningkatnya kemampuan berbahasa dan kepercayaan diri staf, universitas juga memperkuat fondasi human capital yang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Program ini sejalan dengan misi Sekolah Vokasi UGM untuk menghubungkan pendidikan dengan dunia kerja nyata.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan bahasa dapat menjadi strategi pembangunan ekonomi mikro di lingkungan pendidikan tinggi—dimulai dari peningkatan kualitas individu, menuju peningkatan performa organisasi, hingga kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional berbasis pengetahuan.
Penulish: Dr. Supriyono, M.A.


