Yogyakarta-Oktober 2025. Sebuah penelitian yang inovatif dilakukan untuk mengeksplorasi hubungan rumit antara gender dan komunikasi kepemimpinan di perguruan tinggi (PT) di Asia Tenggara. Penelitian ini berfokus pada dua universitas terkemuka: Universiti Teknologi MARA (UiTM) di Malaysia dan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Indonesia. Penelitian ini sangat signifikan dalam konteks Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB, yang menekankan pendidikan, pekerjaan, dan pemberdayaan perempuan.
Penelitian ini berlandaskan pada beberapa kerangka teori, termasuk Analisis Wacana Kritis (CDA), Teori Kesopanan, Teori Genderlect, dan Teori Tindak Tutur. Kerangka-kerangka ini memberikan lensa komprehensif untuk memeriksa bagaimana pemimpin pria dan wanita secara linguistik membangun otoritas, empati, dan profesionalisme dalam konteks akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana strategi komunikasi yang bergender mencerminkan norma sosial budaya yang lebih luas dan ideologi institusional yang tertanam dalam pendidikan tinggi.
Dengan menggunakan desain komparatif kualitatif, para peneliti mengumpulkan data melalui wawancara semi-terstruktur, pengamatan rapat yang direkam, dan analisis dokumen. Sebanyak dua belas pemimpin akademik berpartisipasi dalam penelitian ini, dengan lima pemimpin dari UiTM dan enam dari UGM, memastikan representasi gender yang seimbang. Data tersebut dianalisis secara cermat menggunakan NVivo 12, mengikuti prosedur multi-tahap yang mencakup pengkodean tematik, analisis wacana, dan perbandingan antar institusi.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa baik pemimpin pria maupun wanita menggunakan gaya komunikasi hibrida, menggabungkan ketegasan dengan kesopanan relasional. Namun, kecenderungan gender yang berbeda terlihat dalam pendekatan komunikasi mereka. Pemimpin pria di kedua institusi cenderung menggunakan tindak tutur yang bersifat direktif dan transaksional, dengan fokus pada efisiensi, kejelasan, dan otoritas. Sebaliknya, pemimpin wanita sering menggunakan kata ganti inklusif, perangkat penghalus, dan penggambaran empatik untuk mendorong kebersamaan dan menjaga harmoni relasional.
Menariknya, tingkat mitigasi dan solidaritas bervariasi antara kedua konteks. Pemimpin di UiTM menunjukkan kepatuhan yang lebih besar terhadap norma kesopanan hierarkis, mencerminkan konteks budaya institusi tersebut. Sebaliknya, pemimpin di UGM menunjukkan pola interaksi yang lebih egaliter dan dialogis, menunjukkan pendekatan yang berbeda terhadap komunikasi kepemimpinan yang sejalan dengan budaya institusi mereka.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa perbedaan gender dalam komunikasi kepemimpinan tidak bersifat dikotomis, tetapi dimediasi secara kontekstual oleh budaya institusi, ideologi linguistik, dan pragmatik regional. Temuan ini menekankan pentingnya memahami negosiasi dinamis antara konvensi kesopanan lokal dan norma komunikasi akademik global.
Lebih jauh lagi, implikasi dari penelitian ini melampaui ranah akademik. Dengan menyoroti cara-cara di mana strategi komunikasi yang bergender dapat mempengaruhi identitas kepemimpinan, penelitian ini berkontribusi pada diskursus yang sedang berlangsung tentang kesetaraan gender dalam tata kelola pendidikan tinggi. Ini menekankan perlunya institusi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung berbagai gaya komunikasi, yang pada akhirnya mempromosikan pemberdayaan perempuan dan peluang kerja yang setara di dunia akademis.
Seiring dunia terus berupaya mencapai SDGs, terutama dalam bidang pendidikan dan kesetaraan gender, penelitian ini menjadi sumber daya penting bagi pembuat kebijakan, pendidik, dan pemimpin akademik. Dengan memahami nuansa komunikasi gender dan kepemimpinan, institusi dapat lebih baik mempersiapkan diri untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan memberdayakan bagi semua anggota komunitas akademik.
Penelitian ini secara langsung berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 5 (Kesetaraan Gender), dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
Melalui temuan yang menyoroti pentingnya komunikasi kepemimpinan yang inklusif, empatik, dan berkeadilan gender, penelitian ini memperkuat upaya peningkatan mutu pendidikan tinggi (SDG 4), mendukung pemberdayaan dan partisipasi penuh perempuan dalam kepemimpinan akademik (SDG 5), serta mendorong terciptanya lingkungan kerja yang profesional, adil, dan produktif di sektor pendidikan (SDG 8). Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperluas wacana akademik tentang komunikasi bergender, tetapi juga berperan aktif dalam mendukung transformasi institusi menuju sistem pendidikan tinggi yang lebih setara dan berkelanjutan.
Penulis: Ahmad Mu’am


