Foto bersama narasumber dan peserta kuliah umum
Yogyakarta, 24 April 2026 – Program Studi Bahasa Jepang untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional, Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya (DBSMB), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM), kembali menunjukkan komitmennya dalam menyiapkan lulusan berdaya saing global melalui penyelenggaraan kuliah umum bertajuk “Dari Kelas ke Karier: Serunya Jadi Interpreter Jepang-Indonesia.” Kegiatan ini menghadirkan praktisi profesional Sholihah Noor Hidayati, B.B.A., M.B.A., yang membagikan wawasan mendalam mengenai dinamika profesi interpreter Jepang-Indonesia di tengah pesatnya perkembangan era digital dan globalisasi.
Dalam paparannya, Ibu Sholihah menegaskan bahwa profesi interpreter bukan sekadar menerjemahkan kata demi kata, melainkan menjadi “jembatan makna” yang menghubungkan individu dari latar belakang budaya, bahasa, dan perspektif yang berbeda. Peran ini menjadikan interpreter sebagai aktor penting dalam komunikasi lintas budaya, khususnya dalam hubungan internasional, bisnis, pendidikan, dan diplomasi. Peserta juga memperoleh pemahaman komprehensif mengenai perbedaan mendasar antara translator dan interpreter, serta berbagai metode penjurubahasaan seperti konsekutif, simultan, dan whispering yang umum digunakan dalam praktik profesional.
Lebih jauh, kegiatan ini menyoroti bahwa kesuksesan seorang interpreter dibangun melalui persiapan yang matang dan proses panjang di balik layar. Sholihah menjelaskan pentingnya riset mendalam, penyusunan glosarium istilah teknis, latihan shadowing, hingga kemampuan note-taking yang efektif sebagai fondasi utama profesionalisme. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya diajak memahami profesi ini secara teknis, tetapi juga menyadari pentingnya penguasaan kompetensi bahasa, sensitivitas budaya, dan keterampilan interpersonal sebagai nilai tambah yang tidak mudah tergantikan oleh kecerdasan buatan.
Di tengah transformasi digital, kuliah umum ini juga memberikan perspektif realistis mengenai masa depan profesi bahasa. Meskipun teknologi AI berkembang pesat dalam bidang penerjemahan teks, kebutuhan terhadap interpreter manusia tetap tinggi karena kemampuan manusia dalam membaca konteks sosial, nuansa budaya, serta membangun komunikasi empatik tetap menjadi keunggulan utama. Hal ini mempertegas bahwa kompetensi kebahasaan dan budaya masih menjadi aset strategis di pasar kerja global.
Kegiatan ini menjadi bagian nyata dari kontribusi DBSMB SV UGM dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kapasitas mahasiswa berbasis kebutuhan industri global, serta SDG 8: Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mempersiapkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan siap memasuki dunia profesional internasional.
Antusiasme tinggi peserta terlihat dari jalannya diskusi yang interaktif, dengan beragam pertanyaan kritis mengenai sertifikasi JLPT, pengalaman kerja, hingga tantangan profesi interpreter di lapangan. Kegiatan ini tidak hanya membuka wawasan karier mahasiswa, tetapi juga memperkuat motivasi mereka untuk terus mengembangkan potensi unik masing-masing.
Sebagai penutup, Sholihah menyampaikan pesan inspiratif bahwa setiap individu memiliki jalannya sendiri menuju kesuksesan. Mengutip lirik terkenal dari grup Jepang SMAP, “ナンバーワンにならなくても良い” (tidak perlu menjadi nomor satu), ia menekankan pentingnya fokus pada kekuatan personal tanpa harus terjebak dalam perbandingan dengan orang lain.
Melalui kuliah umum ini, Program Studi Bahasa Jepang DBSMB SV UGM kembali menegaskan perannya sebagai institusi vokasi yang responsif terhadap kebutuhan zaman, dengan membekali mahasiswa tidak hanya dengan kompetensi akademik, tetapi juga kesiapan profesional dan wawasan global untuk menjadi penghubung antarbudaya di masa depan.
